Sebuah Tanya yang Mengusik

Pose Bareng itu

Pose Bareng itu

Peringatan catur dasa warsa SMK Strada memberiku kesempatan untuk berjumpa kembali dengan Pastor Opzeeland, mantan Kepala Sekolah SMK itu, yang juga bekas sekolahku di akhir tahun 70-an.

Bersama beberapa teman sekelas, aku berhasil mendekati dan menjabat tangan beliau. Mempertimbangkan begitu banyaknya orang lain yang juga ingin bertemu beliau, aku membatasi diri hanya memperkenalkan diri: menyebutkan nama dan angkatan serta jurusan. Menatap wajah beliau, aku menangkap bahwa beliau ingin tahu lebih banyak.

Menangkap gelagat, seorang sahabatku menimpali situasi dengan berkata, “Dia ini selalu jadi juara umum, Romo. Dari kelas satu sampai lulus . . . .” Agaknya penjelasan itu pun tidak Read the rest of this entry »

 

Sekolahku Sayang, Sekolahku . . .

 

Pulang ke kotamu,
Ada setangkup haru dalam rindu,
Masih seperti dulu,
Tiap sudut menyapaku bersahabat,
Penuh selaksa makna . . . .

~ Katon Bagaskara dalam Yogyakarta ~

  

Masih seperti dulu. Bangunan tua itu masih setia berbalut ke-lawas-an. Bangunan berlatar depan gudang itu (karenanya, sering disebut STM Gudang) belum tersentuh pemugaran. Rasanya setiap bata di situ masih bata yang sama dengan bata yang dipasangkan paling sedikit empat puluh tahun yang lalu. Setiap jengkal footprint-nya, seakan-akan, tidak bergeming: tidak menyempit, tidak meluas.

Kesan itu mengiringiku ketika Sabtu pagi itu , 9 Mei 2009, aku menerobos halaman dan kemudian masuk ‘ruang tunggu’ Sekolah Menengah Kejuruan (dulu berjuluk ’salah kaprah’ Sekolah Teknik Menengah alias STM*) Strada di bilangan Rajawali Selatan itu. Kesan itu begitu melekat sehingga aku sejenak melupakan acara yang Read the rest of this entry »

 

Catatan Kecil (di) Atas Salib

Plakat di Atas Salib

Plakat di Atas Salib


Iesus Nazareus - Rex Iudaeorum.

Sepotong catatan yang diplakatkan di atas kepala Yesus ketika Dia disalibkan, dulu. Dan sekarang catatan itu cuma ditorehkan sebagai INRI di salib-salib kristiani.

Santo Yohanes, sang biografer Yesus, sempat menambahkan kisah kecil tentang catatan itu: “INRI” itu sempat jadi bahan ‘debat politik’ sengit antara Ponsius Pilatus (penguasa Roma di bumi Israel waktu itu) dengan para pemuka agama Yahudi (‘sang pemimpin’ rakyat di Israel). Read the rest of this entry »

 

Jogging Pagi, Jogging . . .

 
 

Aku harus berolahraga di pagi hari sebelum otakku menyadari apa yang sedang aku lakukan.

~ Marsha Doble ~

Masih dirundung kantuk jam setengah lima pagi, aku mengikuti ajakan Candra: meninggalkan kenyaman ranjang, mengenakan sepatu lari, menerobos udara sangat sejuk Cibubur, ber-jogging-ria di jalan-jalan dalam kompleks perumahan.

Berlari sekian ratus meter, kantuk sudah menyisih, sirna. Dan seperti sebuah kewajaran, lari kecil kami mulai ditingkahi pembicaraan. Suara lembut Candra mulai merinci kekecewaan Ena gagal lolos seleksi SMP pilihannya. Aku menangkap nada gundah di suara Candra, mewakili kesedihan Ena. Kesedihan itu menyeberang dan menular ke sanubariku. Tepukan lembutku di pundak Candra menyampaikan simpati, serasa sepenanggungan.

Peter dengan yoyo idamannya terbahas dalam meter-meter yang kami lalui berikutnya. Tingkah ke-Tigger*-an putra bungsu kami itu, Read the rest of this entry »

 

Mestikah Berubah?

 

Bila tidak satu pun pernah berubah, tidak akan ada kupu-kupu.

~ Anonim ~

Aku pindah ke Amerika tahun 2002, ke Duluth, sebuah kota turis. Letaknya persis di pinggir Lake Superior – kumpulan air tawar terbesar di dunia.  Indah pemandangannya dan nyaman hawanya. Karenanya, Duluth populer bagi banyak orang di musim panas.

Aku dan Charlie, suamiku, membuka bisnis impor: mendatangkan furnitur dan aneka barang dekorasi dari Indonesia.  Awalnya, bisnis ini melayani pembeli grosir kemudian, setahun setelahnya, kami juga membuka toko.  Dua kali setahun kami pergi ke empat kota mengikuti pameran grosir.  Upah terbesar yang kami terima adalah mendengar kekaguman orang Amerika akan hasil karya seni negeri kita.  Mereka ternganga karena tidak mengira itu semua hasil Read the rest of this entry »

 

Cinta Pertama

 

Ketika cinta bukan kegilaan, itu bukanlah cinta.

~ Pedro Calderon de la Barca  ~

Catatan:

Aku ingat sebuah kisah cinta beberapa hari ini ketika mempersiapkan tulisan untuk Valentine’s Day di sini. Kisahnya dari sebuah buku milik Papa (yes . . . my Pop is also an avid reader). Tapi sudah bertahun-tahun tidak pernah kulihat di mana buku itu terselip. Jadilah, aku memutuskan tidak jadi menyadur tapi mengarang dari luar kepala (benar-benar dari luar kepala alias nggak ingat rinciannya). Setelah hampir jadi, barulah Michael, adikku, (dengan gembira) memberitahu bahwa dia berhasil menemukan buku itu. Jadilah aku membanding-bandingkan kedua karya dan kemudian memutuskan menyelesaikan karanganku saja.

So, kalau bagus, ingatlah tulisan ini diilhami tulisan yang juga bagus; kalau jelek, well . . . timpakan salahnya kepada pengarang amatiran ini.

Happy Valentine’s Day!

Mestinya aku berusia sekitar sebelas tahun ketika Paman dan Bibi membawaku berlibur selama sebulan di Paris. Kami tinggal di rumah Madame Dupont, di sebuah rumah tua yang nyaman sedikit di luar Paris.

Setiap hari dengan antusias yang meletup-letup Bibi dan Paman keluar untuk menjelajahi Paris. Tetapi, setelah hari pertama berkeliling dengan mereka, aku tidak tertarik untuk melihat-lihat kota cantik itu lebih jauh. Aku ingin tinggal di rumah, duduk di salah satu sudut ruang makan yang luas dan nyaman atau berkeliaran di seantero rumah yang antik tapi hangat. Aku ingin menyaksikan Madame Dupont yang dengan penuh kegembiraan membenahi rumahnya.

Dia seorang wanita ayu. Malah, menurutku, wanita paling ayu yang pernah kujumpa. Dan dia memiliki senyum yang luar biasa manis. Read the rest of this entry »

 

No Smoking, Yes?

 

Mereka menakut-nakutiku dengan kanker tenggorok, dan aku terus merokok dan merokok. Andaikan mereka menakut-nakuti dengan kerja keras, mungkin aku akan berhenti.

~ Mignon McLaughlin ~

Seorang sejawat dari Makassar, ketika bertemu baru-baru ini, mendeklarasikan bahwa dia sudah berhenti merokok. Dia berhenti total. Sudah enam bulan, katanya. Mestinya enam bulan yang menarik, menurutku. Sehingga aku ingin mendengarnya lebih lanjut berkisah.

Tiga bulan pertama berhenti adalah bulan-bulan berat, katanya lebih lanjut. Tiga bulan bergulat dengan diri sendiri: selesai makan, ketika dessert asap mestinya menyempurnakan course makan; kala mesti berpikir keras, ketika stimulan nikotin begitu menggoda; kala santai, ketika mestinya sedotan tar menambah sensasi; kala berkumpul dengan sejawat dan sobat, ketika harum asap tembakau dan rempah mestinya menjadi sebuah pembubuh pelengkap suasana. Tiga bulan juga dijalani seperti seorang pecandu Read the rest of this entry »

 

Pernikahan: Lima Belas Tahun Ini . . .

 

Cinta pada pandangan pertama mudah dipahami; adalah ketika dua manusia sudah saling ’memandang’ seumur hidup barulah hal itu menjadi sebuah mukjizat.

~ Amy Bloom ~

“Dewa Wisnu sudah bosan mendengarkan permohonan salah seorang penyembahnya, hingga suatu ketika ia menampakkan diri di hadapannya dan berkata, ‘Sudah kuputuskan: aku akan memberimu tiga hal, apa pun yang kau minta. Sesudah itu, tidak ada sesuatu pun yang akan kuberikan kepadamu lagi.’

“Penyembah itu dengan gembira langsung mengajukan permohonan yang pertama. Ia meminta agar isterinya mati sehingga ia dapat menikah lagi dengan wanita lain yang lebih baik. Permohonannya dikabulkan dengan segera.

“Tetapi ketika teman-teman dan sanak saudaranya berkumpul menghadiri pemakaman isterinya dan mulai mengenangkan kembali semua sifat baiknya, penyembah ini sadar bahwa ia telah bertindak terlampau gegabah. Saat itu ia menyadari bahwa ia dulu buta terhadap segala kebaikan isterinya. Apakah ia masih bisa menemukan wanita lain yang sebaik dia?

“Maka ia memohon kepada dewa agar menghidupkan isterinya kembali. . . .” *

Kisah itu sempat melintas di benak ketika malam itu, sendirian, aku merenungi pernikahan yang sudah berusia lima belas tahun.

Malam sudah agak larut. Read the rest of this entry »

 

Renungan Winter

 

Tanamlah sepucuk pohon hijau di hatimu dan, mungkin, seekor burung penyanyi akan datang ke situ.

~ Kata mutiara Cina ~

Catatan:

Aku pernah sempat terpikir, betapa menyenangkan mendapat kesempatan bekerja di mancanegara. Tapi baru-baru ini seorang sobat memberikan tulisan terlampir. Sebuah tulisan yang mengoreksi opiniku.

Tetapi lebih jauh tulisan itu memperlihatkan sisi lain menjalani kerja. Menjalani kerja yang lebih dari sekedar mencari ’sesuap nasi’ (atau ’segenggam intan’ :D ). Di mana pun, kapan pun.

Vielen dank, Chan!

Winter keempat di Jenewa . . . .

Melihat hamparan salju di luar, kadang aku masih suka terpikir, “Lho, sampai sekarang masih di sini to?  Kok bisa ya….”

Menengok ke belakang, terutama saat-saat jadi fresh newcomer, tidak terpikir aku akan tinggal selama bertahun-tahun di sini. Yang mengantarku ke sini . . . ya pekerjaan; Yang membuatku bertahan . . . ya juga pekerjaan; dan tentu saja imbalan serta kesempatan untuk menambah pengalaman di ajang internasional. Read the rest of this entry »

 

Sapa Natal buat Para Sobat


Ke-offline-anku tidak bisa kuhindari. Berbagai cara dan pengalaman kutempuh: warnet yang susah kutemukan dalam cuti kali ini; warnet yang lelet; komputer teman yang tembok keamanannya begitu ketat sehingga nggak bisa masuk ke wordpress; dan komputerku yang ’bersin-bersin’ nggak jelas juntrungan-nya.

Akhirnya, barulah di tengah malam (atau di pagi buta) ini, aku berhasil menyelinap masuk sejenak ke wordpress. Sebuah tulisan sempat ku-posting. Sekarang aku tengah menulis sapa kecil ini; semoga bisa selesai sebelum koneksi terputus atau ada gangguan lain. Read the rest of this entry »