Warisan Pusaka
Posted in Buku, Film, Renungan, Tokoh on 08/18/2008 10:31 pm by Ming
Kita tidak bisa mengubah kartu-kartu yang dibagikan kepada kita, tapi kita bisa memutuskan bagaimana cara memainkan kartu-kartu itu.
~ Randolph Frederick Pausch ~
Di tahun 70-an aku pernah menyaksikan Sunshine*, sebuah filem menyentuh dan mengharukan (dengan banyak lagu country John Denver, seperti Sunshine dan Leaving on a Jet Plane, sebagai musik penghias). Filem ini dibuat atas dasar kaset-kaset jurnal Jacquelyn M. Helton. Jurnal ini mencatat ’perjalanan’ Jackie memanfaatkan hari-hari terakhirnya sebelum kanker tulang merenggut nyawanya di usia 20. Jackie membuat jurnal itu sebagai ’warisan’ buat puterinya, Jill, yang baru berusia 2 tahun saat sang ibu pergi selama-lamanya.
Aku juga pernah ’menyaksikan’ perjalanan seorang teman dekat ketika dia menjalani hari-hari akhirnya sebelum benar-benar menyerah kepada kanker payudara. Melalui e-mail yang jumlahnya terbatas, aku ’menyaksikan’ bagaimana dia mempersiapkan segala yang menurutnya penting bagi kedua putra-putrinya yang masih kecil sepeninggal dia. Dia menyiapkan ’warisan’ buat mereka.
Baru-baru ini kisah serupa mampir lagi dalam hari-hariku. Kali ini kisah seorang Randy Pausch, seorang profesor di Amrik sana. Dia menderita kanker pankreas dan divonis cuma punya waktu hidup 3-6 bulan. Dalam waktu sesingkat itu dia harus mempersiapkan ’warisan’ buat 3 putra-putrinya: Dylan (5 tahun), Logan (3 tahun) dan Chloe (1½ tahun).
Bagi ketiga orang ini sangat jelas keharusan meninggalkan ’warisan’ bagi anak-anak yang masih kecil. Apa yang bisa diingat Jill tentang ibunya bila beranjak besar nanti? Masih adakah yang tertinggal di ruang batin anak-anak teman baikku tentang Mommy-nya bertahun-tahun setelah kematian sang Mommy? Tidakkah agak sulit buat Dylan mengenangkan hari-harinya bersama sang Daddy? Mampukah Logan dan Chloe yang begitu muda memetakan sang Daddy di kemudian hari?
Belum lagi keinginan mereka untuk ”mengajarkan kepada anak-anak saya apa yang sebenarnya ingin saya ajarkan sepanjang dua puluh tahun ke depan: . . . mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah . . . mana yang penting . . . bagaimana menghadapi tantangan-tantangan yang akan dihadirkan kehidupan . . . .”**
Aku tidak pernah dengar kaset-kaset Jackie; tidak begitu jelas isi kaset-kaset itu kalau hanya menyimak Sunshine. Aku juga tidak tahu secara rinci apa yang dilakukan teman dekatku. Tapi aku yakin banget bahwa mereka ingin sekali memasukkan diri ke dalam ’botol’ yang suatu hari nanti akan terdampar di ’pantai’ untuk anak-anak mereka**.
Beberapa waktu yang lalu aku, atas pemberitahuan seorang sahabat, sempat menyaksikan isi salah satu ’botol’ yang dibuat Randy Pausch. ’Botol’ itu berupa rekaman sebuah kuliahnya dalam program the Last Lecture***. (Rekaman ini akhirnya nyelonong ke YouTube dan ditonton jutaan orang.) Jadi, sekali tepuk dua nyamuk: Rekaman ini ’sebenarnya’ merupakan persembahannya untuk Jai (isterinya) dan ketiga anaknya sekaligus memenuhi janjinya bagi universitas tempatnya mengajar: mengisi program the Last Lecture.
Mencuri-lihat isi ’botol’ Randy memang tidak memancing rasa haru berlebihan atau tidak harus sering-sering menyusut air mata. Karena di dalamnya tidak aku temukan drama bagaimana hidupnya ’didera’ sang kanker, tidak juga tindakannya ’mengiba-iba’ karena tertimpa ’nasib sial’ itu.
Isi ’botol’ itu lebih memperlihatkan nilai-nilai dasar hidup dengan contoh yang diambil dari hidup sang profesor: kegembiraan menghadapi hidup, kerja keras, membangun dan mewujudkan mimpi, menghormati hidup, meletakkan dan memanfaatkan benda-benda pada fungsi yang proporsional, dan lain-lain. Aneh memang: menjelang kematiannya, Randy (dan tokoh-tokoh lain di atas) memperlihatkan hidup dan memberi ’wejangan’ bagaimana hidup semestinya dijalani.
Randy pernah berkata bahwa dia beruntung karena terkena kanker pankreas (mungkin dia penganut falsafah Jawa yang selalu menyuarakan ”Masih untung . . .” J). Karena dengan demikian dia masih punya kesempatan untuk mempersiapkan warisan pusaka berupa ’botol’ untuk keluarganya; Hal mana tidak akan dapat dilakukannya kalau dia mati mendadak karena kecelakaan lalu lintas, misalnya.
Aku tengah berpikir-pikir: apakah aku bisa men-dompleng keberuntungan ketiga orang tersebut?
* Sunshine dibintangi Cristina Raines dan Cliff DeYoung, dibuat tahun 1973.
** Dikutip dari tulisan Randy Pausch dalam bukunya the Last Lecture. Buku ini diterbitkan beberapa waktu setelah kuliah yang menghebohkan itu. Versi Indonesianya juga sudah terbit.
*** Di banyak perguruan tinggi di Amerika, ada semacam program, biasa dinamai the Last Lecture, yang menampilkan seorang dosen dalam kuliah non-akademis. Isi kuliah berbasis kepada permenungan sang dosen ”seandainya kuliah ini adalah kuliah terakhir saya sebelum mati, apa yang akan saya sampaikan kepada para ’mahasiswa’ sebagai warisan?”
08/19/2008 at 11:05 am
Lady…,
my sweet lady..
I’m as close as I can be
and I swear to you our time has just begun…
Lagu favorit ku dari film (Sunshine) itu.
Jadi ingat jaman ’satria bergitar’ dulu Ming.. hahaha
08/19/2008 at 11:12 am
Ming,
Aduh, baru tau lho kalau Randy akhirnya udah meninggal tgl 25 July yl. Terus terang, akhir2 ini rada sibuk,jadi banyak hal yang ga sempet dikerjakan.
Kadang emang kepikir, apakah ada ‘warisan’ yang ditinggalkan pada saat kita ‘pindah’ ke tempat yang lebih baik.
08/19/2008 at 11:16 am
Make the most of their living years (to love them).. rasanya itu yang ingin mereka sampaikan ke orang² terkasih itu ya..
08/19/2008 at 1:30 pm
I just bought my husband buku The Last Lecture..
hehe lumayan banget si kandungannya !