October Blues?
Posted in Opini, Renungan on 10/31/2008 03:20 pm by Ming
Kekhawatiran tidak pernah menghapus kesedihan dari hari esok, dia hanya menyedot habis kegembiraan dari hari ini.
~ Leo Buscaglia ~
Aku lupa acaranya. Entah Today’s Dialog atau Economic Challenge atau mata acara lain. Yang jelas di situ ada Desi Anwar memandu. Dan diskusi yang terjadi bertolak dari buku Michael Backman yang berjudul Asia Future Shock.
Aku tidak berlama-lama menyimak acaranya. Tapi aku sempat menangkap yang didiskusikan: masa depan Asia, juga Indonesia termaktub di situ, menurut Tuan Backman. Katanya, Vietnam akan jadi ‘Cina yang baru’, Singapura akan jadi Swiss-nya Asia, Cina dan India akan melesat jauh. Sementara, Indonesia tercinta akan terseok-seok dan bangkrut. Bahkan, dalam diskusi sempat terbetik tahun-tahun perkiraan yang rinci kapan hal tersebut mewujud, bak ramalan nujum.
Diskusi kelihatannya berjalan seru. Para nara-sumber berbagi pihak: ada yang mendukung dan ada yang menyanggah. Walau aku tidak menyaksikan sampai akhir acara tapi tetap saja ramalan tuan Backman terasa begitu mengemuka dan ‘mengancam’, khususnya untuk Nusantaraku ini. Bukan sebuah gambaran yang menyejukkan dan menenangkan.
Gambaran itu makin ‘mengancam’ bila ditambahi kabar belakangan ini tentang runtuhnya beberapa lembaga keuangan di Amrik sana. Gejolaknya kemudian meng-gonjang-ganjing-kan ekonomi global. Beberapa hari terakhir alam ekonomi kita pun ikut-ikutan goyang. Dan, seperti biasa, suara para pakar dan petinggi republik ini begitu riuh rendah mengalahkan gema maaf-memaafkan yang mestinya masih tersisa hari-hari ini, mengatasi suara tentram damai yang kudamba. Kewaspadaan dan wanti-wanti peringatan begitu kental mengisi ruang dengar, ruang lihat dan ruang baca.
Sementara itu Oktober seolah selalu menjadi pengingat setia tentang usia yang merambat (lebih tepatnya ’melonjak’) naik. Tanda-tanda alamiah makin tidak bisa diingkari: langkah cepat selalu menyisakan nafas yang tersengal, jogging mulai tidak begitu fun lagi, begadang sudah pasti menyita berhari-hari pemulihan (bahkan bisa dibarengi ambrug sakit).
Akan mudah jadinya mengembel-embeli bulan ini sebagai Oktober yang kelabu. Cukup alasan menjadikan hari-hari ini tanpa janji harapan. Langkah lunglai dan bahu yang melorot mungkin akan diterima orang dengan maklum hari-hari ini.
Namun usia yang ’melonjak’ naik membawa berkahnya sendiri. Di gembol hidupku bertumpuk pengalaman. Pengalaman mendada hari-hari kelabu. Pengalaman memasuki galau masa. Pengalaman menjalani masa sulit.
Memang aku masih muda ketika gelombang masa 1965 menerpa tapi aku sudah cukup sadar akan kegentingan situasi. Aku cukup tahu label ’keturunan Tionghoa’ saat itu adalah semacam kutuk. Sikap hati-hati Papa dan Mama, bisik-bisik tetangga, berita radio yang setengah-setengah kumengerti, juga kutangkap sebagai cerminan gawatnya situasi. Masa yang mencekam bahkan bagiku yang mestinya asyik menikmati dunia anak-anak.
Tahun 1984 menatapkanku muka bermuka dengan yang namanya jadi penganggur. Tiba-tiba di-PHK; sekonyong-konyong tanpa kerja, tanpa peran. Selama tiga bulan aku limbung: panggilan wawancara tidak berujung hasil, tidak ada pemasukan, menguras ATM dengan berat hati. Selama tiga bulan harga diri dikikis bertahap (bayangkan ketika semua sibuk keluar rumah pagi hari dengan dada membusung, aku termangu-mangu dengan kepala tertunduk kalah).
Ketika gonjang-ganjing 1998 menjelang, rasa was-was begitu kental di benak. Tiba-tiba bunga cicilan kredit rumahku melonjak gila-gilaan. Berburu susu buat Ena (belum lagi berusia setahun) dan minyak goreng buat keluarga jadi cerita lucu sekarang tapi benar-benar kegiatan yang mendebarkan saat itu.
Mengingat dan menengok kembali pengalaman-pengalaman bergolak itu mengajarkan sesuatu. Kala terpaan dan deraan gelombang begitu keras, muncul banyak tangan yang terulur ikhlas dan murah hati untuk mengangkat dan menopang bahkan melindungi. Tetangga-tetangga yang tidak satu pun Tionghoa seperti memagari aman keluarga kami di penghujung 1965. Seorang sahabat yang mengenalku menarikku keluar dari keterpurukan 1984 dengan tawaran sebuah kerja baru. Ketika situasinya menekan, tangan Tuhan, lewat kejelian Candra, terasa begitu arif menopang kami tetap berdiri mengatasi krisis 1998.
Jadi, biarlah perhitungan teliti dan ramalan bak nujum dikumandangkan media massa mewarnai hari-hari jadi kelabu, jadi tanpa janji harapan. Tapi sandingkan aku dengan Tuhan dan sahabat-sahabat kala kumandang itu menjelma jadi gejolak dan gelombang. Aku akan mampu mendada semuanya, one day at a time. Tidak dengan khawatir, tidak dengan tunduk. Aku yakin, amat yakin akan hal itu . . . .
10/31/2008 at 6:27 pm
khawatir memang manusiawi ya Ming. untung aku punya ibu yang dulu sering mengecewakan jiwa mudaku yang tak tau diuntung, tapi saat ini menjadi contoh ketegaran yang hularrr bizazaaaa
Dengan uang hanya 10 ribu rp, untuk makan sekeluarga, tiba2 uang itu diberikan semuanya tanpa pikir panjang ke tetangga yg anaknya nangis kelaparan. nanti rmh makan apa?? Dia percaya Gusti ora sare. Ternyata, siang itu ada yang ngantar makanan komplit ala pesta, pastinya lebih dr 10 rb la.
Contoh kecil tapi membesarkan hati dikala khawatir datang.
Gusti pancen ora nate sare….
11/01/2008 at 2:10 am
“What we resist, persists” … makanya jangan bergumul dengan ketakutan dan kekhawatiran Ming. Hidup itu roda, the only way available now is up. Meskipun sekarang ini orang bilang seluruh jagad akan merasakan akibatnya, percayalah ada banyak sekali dari kita2 ini yang bakalan merasakan syukur yang dalam bisa melalui semuanya dengan iman dan keyakinan akan kerja tangan Tuhan. Banyak2lah berdoa dan bersyukur.
Kita akhirnya harus melikuidasi toko di sini, berat luar biasa rasanya mengambil keputusan itu. Tapi begitu kita melangkah, biasa2 aja tuh … sungguh2 Puji Tuhan bahwa dalam waktu tiga minggu kita ternyata bisa membayar kembali hutang di bank, mana terpikir bisa secepat itu beban ini diangkatNya, apalagi dalam keadaan seperti sekarang. Makanya kita terus berjalan mengikuti alur yang Tuhan sudah sediakan, sekarang jualan lagi turun drastis dibanding tiga minggu pertama, tapi kita percaya Tuhan akan membantu kita menyelesaikan beban berikutnya yang musti kita selesaikan dengan si landlord.
God takes us to it, He’ll take us through it! Go bless!!
11/01/2008 at 9:47 am
Sebuah bangsa jadi matang karena ia bersedia ambil risiko dengan kesalahan dalam menghadapi krisis ekonomi global. Ia bukan seorang bocah yang selalu dilindungi dari masuk angin atau kepleset. Ia bukan calon menantu yang cukup dibekali harta sebelum kawin. Ia adalah pribadi yang mandiri, liat oleh benturan, kuat oleh badai. krisis ekonomi global mengandung risiko. Siapa yang takut itu, biarlah jadi batu.
11/04/2008 at 5:10 pm
Ming, dunia perlu orang seperti kamu, yang begitu menghayati keadaan. Ada petir nyambar pohon kelapa bisa kamu ceritakan seindah bunga rumput dibalik ilalang. Untung kamu khawatir akan hujan yang tak kunjung reda, kita jadi dikuatkan oleh sharing orang yang survive tsunami.
thx again bro.
11/07/2008 at 2:44 pm
kadang logika itu gak perlu, tapi rasa Ming, rasa…..lebih roso (baca ro=roda so=sodok) alias digdaya.