Masihkah Sahabat (Lama)?
Posted in Renungan on 11/16/2008 05:29 pm by Ming
Hal terindah yang diperoleh para sahabat sejati adalah bahwa mereka dapat berkembang sendiri-sendiri tanpa menjadi terpisah.
~ Elizabeth Foley ~

Dua Sahabat
Entah kenapa tapi, malam itu, pembicaraan per telepon genggam kami menyasar ke topik yang tidak terduga apalagi terencana. Tidak seperti biasanya, pembicaraan kami, aku dengan seorang sahabat yang sudah lama tidak ketemu, tidak sekedar berhenti pada penyampaian berita dan ambang basa-basi. Pembicaraan itu bergaung, meninggalkan jejak di benak sesudahnya.
Semua bermula dari niatku ingin mengetahui keadaan sahabatku itu. Bosan terjebak dalam kemacetan lalu lintas Jum’at malam bisa jadi merupakan pencetus niat itu, entahlah. Tapi yang pasti hatiku yang ringan meningkahi suasana. Sementara di ujung lain telepon genggam, aku yakin suasana juga tidak kalah baik. Sehingga terjadilah pembicaraan ’tidak biasa’ itu.
“Aku hampir tidak mengenalimu, Ming,” ujar sobatku setelah ritual basa-basi lewat. Sebuah pernyataan yang menohok, mengejutkan, menyisakan jeda yang kikuk.
Memang beberapa tahun terakhir kami tidak pernah jumpa. Begitu pun, rasanya kata-kata yang dia ucapkan tidak masuk akal buatku.
”Maksudku begini,” sambungnya, seperti menangkap keterkejutanku, ”ketika membaca tulisan loe di blog, gue seperti ketemu orang lain.”
Melihat nama dan foto yang terpampang di Kilau Embun tidak sedikit pun dia ragu bahwa Ming itu sahabatnya. ”Gue yakin banget, ini sohib yang gue kenal luar-dalem suatu waktu dulu. Gue nggak salah deh.”
Tapi membaca dan kemudian menyelami tulisan-tulisan di situ, dia merasa sedang menatap orang lain. ”Tulisan-tulisan itu nongolin Ming dalam sosok yang beda banget. Ming yang berkutat dalam keluarga. Ming yang punya Candra. Ming yang settled. Kemana tuh Ming yang loner? Kemana Ming yang sering ’sakit gigi’? Kemana hilangnya Ming yang gue kenal?”
Buat sesaat aku termenung, membenarkan kata-katanya yang fasih mengalir. Persahabatan kami memang seperti terputus tiba-tiba ketika kami masing-masing menjejakkan kaki ke dalam bahtera rumah tangga.
Sesekali kami ketemu dalam perjumpaan sesaat; perjumpaan yang terbatasi pada tukar salam dan tukar basa-basi karena terjadi dalam kancah yang terlalu ramai, seperti pesta atau perayaan tertentu. Dan perjumpaan begini tidak pernah menjejakkan kesan; terlupakan sesaat setelah hingar bingar pesta atau perayaan ditinggalkan.
Secara praktis kami tidak pernah ’berjumpa’ lagi. Artinya, tidak ada lagi cengkerama panjang di teras rumah atau di halaman gereja. Tidak juga ada berbagi beban kala gelombang kehidupan menerpa. Bahkan berbagi kegiatan yang saling melengkapi, dulu, cuma sebuah kenangan yang kadang-kadang terlontar dalam cengkerama dengan Candra atau anak-anak.
Dan sementara itu arus kehidupan telah menambahi nuansa hidupku. Berangsur dan tanpa menghitung-hitung, aku berubah. Bersama Candra, juga Ena dan Peter, amat tidak mungkin untuk tidak jadi family man, meninggalkan jauh-jauh lone wolf Ming. Dilingkupi kenyamanan bersama mereka, amat sulitlah tidak terbawa dalam keceriaan, mendepak kebisuan ’sakit gigi’ berkepanjangan.
Mestinya perubahan juga telah terjadi padanya. Aku tidak tahu persis seberapa jauh. Aku cuma bisa menerka-nerka. Di benakku cuma ada asumsi tok.
“Dan lucunya,” kata sahabatku kemudian sekali, “kita beranggapan bahwa kita bisa bertumpu pada ‘gambar’ lama itu untuk berhubungan ke depan . . . .”
Jelas sekali, bertumpu pada asumsi dan terkaan di benak, aku tidak ‘berani’ dan tidak yakin untuk bertindak ‘benar’. Aku pasti akan kikuk, sekarang, bila harus membiarkannya menangis di bahuku seperti yang pernah kulakukan dulu ketika dia kehilangan ayahnya. Akan berpikir keras lah aku kalau, sekarang, harus memilihkan buatnya kado yang pas dan cocok; sebuah hal yang begitu mudah kulakukan dulu karena sangat mengenalnya. Bahkan sekarang kusadari, cara berbicaraku dengannya di telepon selama ini pun sudah mundur puluhan langkah: penuh keraguan dan berusaha ada di zona aman.
______________________________________
Ketika, akhirnya, pembicaraan kami selesai hampir satu jam kemudian, macetnya jalanan tidak lagi mengganjal pikiranku. Yang kuat menggelayuti benak cuma pemikiran: Masih adakah sahabat-sahabat? Benar-benar sahabat: hadir utuh dan up-to-date. Bukan sahabat masa lalu; bukan sahabat dalam nostalgia; bukan sahabat dalam kisah-cerita . . . .
11/17/2008 at 1:31 am
Ming … dalamnya sebuah persabatan bukan ditentukan oleh lamanya dan berapa seringnya kita ketemu (I don’t think). Gue menikmati pertemuan kita yang cuma setengah hari barusan ini padahal kita ketemu seperti itu dua tahun lalu, dan sebelum itu terakhir ketemu model begini mungkin waktu kita masih di Cik DiTiro (mungkin).
How deep and wide is the ocean, Ming? Rasanya gue masih bisa sharing perasaan terdalam sama 4Sehat-5Sempurna irregardless how long I haven’t seen them. (Kalau liat foto di awal tulisan lu ini, guye kayaknya tahu siapa yang lu ajak ngomong!).
11/17/2008 at 2:07 pm
Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk Wordpress dengan installasi mudah.
Kami berharap bisa meningkatkan kerjasama dengan memasangkan WIDGET Lintas Berita di website Anda sehingga akan lebih mudah mempopulerkan artikel Anda untuk seluruh pembaca di seluruh nusantara dan menambah incoming traffic di website Anda. Salam!
11/18/2008 at 11:59 am
Hahahaha… Sobat,
kenapa kau bertanya seperti itu…? Ketika kau merasa nyaman berada di sekitarnya, ketika itulah kau berada di antara sahabat… rasanya ngga begitu penting apakah dia (atau mereka) tahu secara up to date apa yang kita perbuat.. juga ngga jadi soal kalau dia tidak selalu hadir setiap saat dalam perjalanan hidup… yang pasti dulu pernah terjadi sesuatu yang mendekatkan kalian.. dan itu rasanya bukan sekedar nostalgia, itu akar persahabatan yang kuat… maksudku between you two penjaga Asisi .. hahahaha
kalau kata J & P kan “..you and I have memories longer than the road that stretches out ahead..” (two of us)
Rasanya perlu direalisasikan segera deh “rencana” itu..
tabik sobat..
11/18/2008 at 12:32 pm
Kay…
loe baca kan…? So kapan..?
hhhh..
11/20/2008 at 9:08 am
Sahabat adalah orang yang mengenal dan menerima kita luar dalam, sehingga perubahan apapun kelak tidak jadi masalah, kita tetap sama luar dalam. Bener kan Ming, biarpun udah tuek elek rasanya kalau ketemu masih begituuu aja macam duluuu…