Mestikah Berubah?
Posted in Opini on 02/28/2009 07:53 pm by Inge
Bila tidak satu pun pernah berubah, tidak akan ada kupu-kupu.
~ Anonim ~
Aku pindah ke Amerika tahun 2002, ke Duluth, sebuah kota turis. Letaknya persis di pinggir Lake Superior – kumpulan air tawar terbesar di dunia. Indah pemandangannya dan nyaman hawanya. Karenanya, Duluth populer bagi banyak orang di musim panas.
Aku dan Charlie, suamiku, membuka bisnis impor: mendatangkan furnitur dan aneka barang dekorasi dari Indonesia. Awalnya, bisnis ini melayani pembeli grosir kemudian, setahun setelahnya, kami juga membuka toko. Dua kali setahun kami pergi ke empat kota mengikuti pameran grosir. Upah terbesar yang kami terima adalah mendengar kekaguman orang Amerika akan hasil karya seni negeri kita. Mereka ternganga karena tidak mengira itu semua hasil kerja tangan artisan kita, yang kalau dibuat di Amerika sini bisa puluhan kali lipat harganya.
Toko kami memutar lagu-lagu Indonesia dari keroncong, gamelan Jawa dan musik Bali sampai album Elfa’s Singers. Banyak yang ingin membeli rekaman lagu-lagu itu; sayang kami tak punya duplikat karena tidak terpikir buat menjual CD Indonesia. Kami juga melayani pengiriman barang ke banyak kota lain di Amerika, bahkan kami punya pelanggan dari Hawaii dan Alaska. Tak jarang kami menerima kiriman kartu terima kasih atau telepon dari konsumen yang puas dengan servis kami dan tata krama orang Asia (Indonesia, tepatnya!). Tanggapan seperti ini tidak bisa diganti dengan uang, nikmatnya sulit diukur.
Lumernya ekonomi Amerika mulai terasa sejak awal 2008. Ketika kami pergi ke pameran grosir, penurunan pesanan sudah terasa. Waktu itu kami masih berharap roda bisa naik kembali meskipun cukup was-was mendengar berbagai prediksi soal ekonomi Amerika.
Ketika musim semi hampir berlalu dan kami melihat penurunan bisnis yang luar biasa dibanding tahun lalu, rasa was-was berganti jadi rasa takut. Kami mulai mendiskusikan jalan keluar yang mesti diambil. Beberapa pilihan dipikirkan dengan pilihan terakhir adalah melikuidasi semua barang dan menutup bisnis kami.
Kami masih berharap “musim panas nanti pasti ada perubahan”. Sialnya, perubahan yang diharapkan tidak terjadi, yang ada justru penurunan dahsyat. Bermacam cara kami pikirkan – naikkan dana iklan, turunkan harga barang, ikut State Fair supaya bisa me-lego barang lebih cepat, berikan diskon musim panas – tapi tak banyak perubahan kami lihat.
Anehnya, jalan terakhir yang pernah kami setujui (likuidasi) tidak kami matangkan langkahnya. Padahal kalau kami mau realistis, likuidasi itu jalan paling masuk akal supaya kami bisa menyelesaikan obligasi kami pada pihak lain.
Selama lebih dari dua bulan kami maju mundur, saling tunjuk, saling dorong siapa yang mesti mengambil keputusan. Kami berlindung di balik harapan dan iman padahal intinya kami takut mengalami perubahan besar dalam keseharian kami. Likuidasi? Lalu setelah itu mau apa? Selama 26 tahun Charlie memiliki bisnis pribadi (Wine/Liquor Store lalu IM Imports), sekarang mesti bekerja untuk orang lain? Aku sudah menikmati kepuasan menjual Indonesia, bisa mudik 1-2 kali setahun, tiba-tiba mesti mulai memikirkan untuk bekerja kantoran lagi? Di usia kepala lima ini?
Bukan main beratnya usaha menyeberangi jembatan perubahan itu. Segala macam “what if” dipikirkan. Sampai akhirnya kami terpojok dan sadar bahwa 2008 sudah hampir habis. Kalau holiday shopping terlewatkan, likuidasi bakal makin sulit dijalankan karena terus terang kami tidak tahu apa yang akan terjadi di tahun yang baru.
Senin, September 15 (aku ingat betul). Malam itu kami sekali lagi berdoa rosario, meminta diberi telinga buat mendengar dan menyerahkan semua usaha ke tangan Tuhan.
Esoknya kami menghubungi likuidator dan bertanya secepat apa kiranya proses likuidasi ini.
Jawabannya di luar dugaan karena si likuidator berkata “Poskan cek tanda jadi hari ini, besok kami terima, kami langsung memesan tiket. Kamis tim kami tiba di Duluth. Jumat, Sabtu, Minggu kalian tutup toko dengan alasan inventorisasi. Senin kita buka dan likuidasi dimulai”.
Dalam waktu lima hari kami menghubungi media, menyerahkan desain iklan, mengganti harga produk, mereorganisasi toko, memasang poster dan menyiapkan bermacam banner. Lima hari!
Dalam waktu empat minggu setelah itu hutang di bank kami lunasi, satu demi satu obligasi kami selesaikan. Masih ada yang tersisa tapi kami tahu kami melangkah ke arah yang positif.
Ternyata likuidasi tidak sulit. Ternyata perubahan itu asyik. Beban rasanya terangkat, tidur kembali nyenyak. Ekonomi Amerika masih babak belur, tapi rasanya kami bisa melihat cahaya lain di 2009.
Seringkali, karena ketakutan dan keraguan akan apa yang akan terjadi, kita bertahan di tempat yang sebenarnya tidak memberikan kenikmatan. Rasanya itu tempat yang aman karena kita mengenalnya, karena sudah lama kita berjalan di tempat yang sama. Padahal rasa itu semu.
Perubahan itu ibarat kelahiran. Semua bayi menangis dan berteriak waktu memasuki dunia ini. Namun mayoritas langkah setelah itu menuju kemajuan – duduk, berjalan, berlari, dan seterusnya. Hidup itu roda, setiap akhir membawa awal baru. Karenanya, kalau mempertanyakan “what if” baiknya kita memikirkan opsi yang positif. Change is good … jangan takut!