Jogging Pagi, Jogging . . .
Posted in Renungan on 03/21/2009 09:11 am by Ming
Aku harus berolahraga di pagi hari sebelum otakku menyadari apa yang sedang aku lakukan.
~ Marsha Doble ~
Masih dirundung kantuk jam setengah lima pagi, aku mengikuti ajakan Candra: meninggalkan kenyaman ranjang, mengenakan sepatu lari, menerobos udara sangat sejuk Cibubur, ber-jogging-ria di jalan-jalan dalam kompleks perumahan.
Berlari sekian ratus meter, kantuk sudah menyisih, sirna. Dan seperti sebuah kewajaran, lari kecil kami mulai ditingkahi pembicaraan. Suara lembut Candra mulai merinci kekecewaan Ena gagal lolos seleksi SMP pilihannya. Aku menangkap nada gundah di suara Candra, mewakili kesedihan Ena. Kesedihan itu menyeberang dan menular ke sanubariku. Tepukan lembutku di pundak Candra menyampaikan simpati, serasa sepenanggungan.
Peter dengan yoyo idamannya terbahas dalam meter-meter yang kami lalui berikutnya. Tingkah ke-Tigger*-an putra bungsu kami itu, seperti sering terjadi sebelumnya, menggelitik syaraf tawa kami. Canda dan kelakar jadi ikut mampir dalam lari pagi kami.
Entah karena udara yang sangat sejuk sehingga selalu menjaga kepala tetap dingin, entah karena pagi yang masih dini dan lengang sehingga suara pembicaraan terjaga dalam separuh bisik dan tak pernah memasuki ambang sengit, yang jelas pembicaraan pagi kami mengalir lancar, bersahabat dan akrab.
Ketika jogging berakhir sekitar setengah jam kemudian, nafas sudah tersengal dan sedikit capek menggayuti kaki kami. Kantuk sudah menguap habis. Hati jadi ringan karena ’omong-omong’ dan canda pagi kami. Sebuah awal yang bagus memulai hari . . . .
Hati yang ringan, keakraban yang melegakan, serta kedekatan yang menghangatkan demikian memang makin merekatkan hubungan kami. Tapi menumbuhkembangkan hal ini bukanlah kebetulan, apalagi cuma keberuntungan.
Menilik waktu yang kami miliki, bercengkerama dan berbincang-bincang akrab adalah ’barang mewah’ yang tidak selalu bisa kami peroleh. Rutinitas ’9-to-5’ menyeret sekaligus memisahkan kami hampir sepanjang hari. Belum lagi jebakan ’tua di jalan’ yang terlalu banyak merampok waktu yang tidak pernah lebih panjang dari 24 jam.
Pilihan kebiasaan dan kesibukan yang sering tidak sama ketika berada di rumah makin membuat bercengkerama menjadi aktivitas yang terancam punah. Aku cenderung tidur larut; Candra sebaliknya. Aku suka duduk berlama-lama di depan televisi atau membaca apa saja; Candra selalu ’berkeliaran’ di seantero rumah dan hampir tidak pernah diam. Kecuali Sabtu dan Minggu, kursi-kursi di meja makan kami hampir tidak pernah lengkap terisi pada jam makan.
Untunglah tiap pagi kami masih bisa berangkat kerja bareng. Perjalanan sekitar satu jam tiap pagi itu bisa jadi peluang bercerita, berbagi dan bercanda. Karenanya, selalu ada bersit kesedihan dan kecewa kalau, karena satu dan lain hal, Candra harus membawa mobil sendiri. Hilanglah satu kesempatan berbagi dan bersama.
Bahkan kesempatan yang sudah langka begitu pun, kalau tidak diwaspadai, bisa tercuri ludes. Misalnya, bila berita di radio (yang dihidupkan untuk tahu tentang situasi lalin yang akan kami lalui) begitu menarik, mencuri seluruh perhatianku dan ’menelantarkan’ Candra. Bisa juga, sisa-sisa kantuk menyergap Candra sehingga harus terlelap meninggalkan aku ’sendirian’. Atau kami membiarkan pikiran melayang-layang menyongsong kerja yang masih sekian kilometer atau sekian jam di depan.
__________________________________________
Jogging, pagi baik untuk kesehatan jasmani. Itu aku tahu betul. Tapi, begitu pun, selalu saja ada yang memberati aktivitas itu: ada keengganan meninggalkan kenyamanan tidur, ada kemalasan menerobos dinginnya Cibubur. Tapi, ketika jogging pagi juga baik untuk ’kesehatan’ kebersamaanku bersama Candra, rasanya aku punya sejuta alasan untuk membuang enggan, segan dan malas. OK, then, let’s jogging!
* Tigger adalah teman Winnie the Pooh yang selalu ceria dan tak kenal sedih.
03/31/2009 at 3:30 am
Ming, fyi, kita ga ketinggalan lho. Tapi udah subscribe juga sih. Thanks ya.