Sekolahku Sayang, Sekolahku . . .

 

Pulang ke kotamu,
Ada setangkup haru dalam rindu,
Masih seperti dulu,
Tiap sudut menyapaku bersahabat,
Penuh selaksa makna . . . .

~ Katon Bagaskara dalam Yogyakarta ~

  

Masih seperti dulu. Bangunan tua itu masih setia berbalut ke-lawas-an. Bangunan berlatar depan gudang itu (karenanya, sering disebut STM Gudang) belum tersentuh pemugaran. Rasanya setiap bata di situ masih bata yang sama dengan bata yang dipasangkan paling sedikit empat puluh tahun yang lalu. Setiap jengkal footprint-nya, seakan-akan, tidak bergeming: tidak menyempit, tidak meluas.

Kesan itu mengiringiku ketika Sabtu pagi itu , 9 Mei 2009, aku menerobos halaman dan kemudian masuk ‘ruang tunggu’ Sekolah Menengah Kejuruan (dulu berjuluk ’salah kaprah’ Sekolah Teknik Menengah alias STM*) Strada di bilangan Rajawali Selatan itu. Kesan itu begitu melekat sehingga aku sejenak melupakan acara yang tengah kuhadiri: pesta ulang tahun catur dasa warsa (40 tahun) eks sekolahku. Kesan itu juga yang menjadikan aku mengabaikan kehadiran ratusan orang yang ber-seliwer-an di sekitarku: adik-adik kelas (walau menyimak usia mereka lebih tepat kalau aku sebut “anak-anak kelas”) yang melayani registrasi, kelompok-kelompok berbagai angkatan yang reuni bertukar kangen rindu nostalgia, anggota panitia yang rajin memantau suasana, dan para guru yang tak kukenal dan lebih muda dariku.

Dan kesan itu menemani ketika aku, digelayuti nostalgia, menyusuri jengkal demi jengkal bangunan alma mater-ku itu. Tiap jengkal seperti mengorek, mengusik dan menarik-narik kenangan.

Lantai-lantainya yang sekarang sudah berkeramik-ria, sepertinya, masih bisa memperlihatkan bayang ribuan langkah yang pernah aku dan kawan-kawan jejakkan, lompatkan dan larikan di atasnya; langkah dan derap teruna muda penuh semangat sarat cita-cita.

Atap seng yang tinggi mengawang masih begitu kental memberi warna ‘kegudangan’ sekolah ini; seperti puluhan tahun yang lalu, kini pun tetap tidak lekang dan tidak bosan menaungi dan meneduhi tiap jengkal bangunan ini berikut insan-insan berjuluk guru dan murid.

Dinding-dinding kelas seolah-olah masih menggemakan suara ajar para guru yang serius-padat-ilmu macam ” . . . frekuensi audio bisa memilih memasuki jalur kapasitansi atau jalur induktansi berdasarkan nilai resistansi relatifnya . . .” atau yang konyol-sarat-sindiran macam ” . . . bagaimana kau bisa pandai kalau yang kau simak bukan diktat tapi Dik-Tati? . . . .”  Tidak kalah kuat gema riuh cakap dan celoteh para siswa yang ditingkahi keceriaan remaja muda dan ke-badung-an kelompok cowok-only.

Sebuah ruang lepas plong di tengah-tengah bangunan ini (yang selalu kuanggap “aula”), sepertinya, masih sarat dengan rekaman setiap ‘upacara bendera Senin pagi’. Bendera yang dikibarkan tanpa tiang, lagu Indonesia Raya yang dilantunkan khidmat , taklimat singkat dan amat santun Romo Opzeeland masih menjejakkan bayang di benak. Secara khusus ruang besar ini pasti juga merekam sebuah ‘upacara luar biasa’ ketika Romo Opzeeland menghukum kami, murid-murid kelas 3 Elektronika angkatanku, dengan skors 1 hari karena sehari sebelumnya secara nekad dan kolektif (satu kelas penuh) kami melakukan walk-out dari pelajaran tambahan Civic (kewarganegaraan) pak Bagio yang selalu berpakaian dinas AL itu.

Ruang kantin yang bersempadan langsung tanpa sekat dengan ruang olah raga seperti tidak mau kalah melontarkan kenangan aroma masa lalu. Aroma makanan dan minuman sederhana (macam mie goreng bumbu sambal kacang dan es mambo) yang dulu merupakan pelengkap serta penyedap waktu break dan pengikat keceriaan-keakraban, tiba-tiba seperti hadir di indra ciumku dan mengharukan kalbu.

Ruang olahraga di sebelah kantin yang kelihatan makin renta seakan-akan masih mampu tidak cuma bercerita tentang senam dan bola tangan walau cuma dua cabang olah raga itu yang jadi sebagian besar ‘makanan’ kegiatan olahraga kami. Ruang itu lebih punya kenangan seru tentang class meeting walau biasanya cuma berisi pertandingan bulutangkis antar kelas. Gema gairah dan riuh rendah pertandingan bulu tangkis di ruang sederhana ini rasanya tidak kalah dengan gema di stadion Senayan atau stadion Wembley. Nama-nama mereka yang turun ke gelanggang tidak pernah beken di All England tapi di ruang ini nama-nama itu bak dewa dan pesohor kelas wahid yang mampu memancing sorak dan tepuk tangan membahana yang menggetarkan dinding-dinding semen telanjang ruang ini.

Last but least, aku termangu lama di ruang ini: ruang praktek Elektronika. Bahkan, tata letak ruang yang sudah berubah tidak menghalangi kisah yang masih bisa diceritakan dinding-dinding kokoh ruang ini. Kisah tentang murid-murid di tahun 1976 dan 1977. Kisah tentang banyak remaja yang bermetamorposa dari si kikuk-dungu-buta menjadi prigel-piawai-melek elektronika. Kisah tentang tangan-tangan kikuk menjadi tangan terampil. Kisah tentang tangan yang tersengat listrik 400-an Volt. Kisah tentang salah colok (kabel speaker masuk ke steker listrik dan kemudian cuma berbunyi “duup” diiringi asap ngebul) yang kemudian jadi joke kelas kami. Kisah tentang ‘parade seribu radio’ ketika praktek merakit radio berlangsung hampir di semua meja praktek.

__________________________

Tahun 1975 – 1977 bukanlah tahun-tahun manis buatku. Tahun-tahun itu merupakan pengejawantahan kesadaran bahwa aku harus segera mandiri dan membantu adik-adik. Tahun-tahun itu merupakan saat memupuskan dengan berat dan alot cita-cita masa kecil (jadi dokter kayak dr. Kildare, idolaku).

Ketika menyusuri ruang demi ruang ’sekolah gudang’ ini, aku merasakan bahwa ruang-ruang itu telah menjadi pengobat ketidakmanisan masa itu. Ruang-ruang itu, dengan para guru, para teman dan sahabat, deret pelajaran dalam kurikum berikut interaksi di antaranya, telah menjadi kawah Candradimuka. Ruang-ruang itu sekaligus telah menjadi rumah, telah menjadi home.

Ketika, akhirnya, aku ‘duduk manis’ kembali di “aula” untuk mengikuti misa, ada rasa tenteram dan menyenangkan menyelimuti: aku tengah pulang kandang, I’m home!

 

* “Sekolah Teknik Menengah (STM)”, secara tata bahasa, buatku selalu menggelikan: yang menengah itu sekolah atau teknik-nya?

Tags: , , ,  

Leave a comment