Saat seorang bayi lahir, seorang ibu juga ikut lahir. Ibu tidak ada sebelumnya. Seorang wanita ada tapi seorang ibu, tidak pernah. Seorang ibu adalah sesuatu yang sama sekali baru.
~ Rajneesh ~
Catatan:
Seorang sobat, seorang dokter, tidak luput dari ‘todongan’-ku
. Berikut ini adalah buah penanya di tengah kesibukan menata laboratorium, juga di tengah kesibukannya sebagai seorang ibu.
Penggalan pengalamannya sebagai ibu itu pula yang kemudian tertuang sebagai persembahannya buat kita semua.
Thanks, Mbak Menik!
Dibesarkan sebagai seseorang yang mandiri, rasional dan berpikir praktis membuatku tumbuh menjadi seseorang yang cenderung dangkal perasaan, terutama terhadap hal-hal yang bersifat sentimentil.
Hal ini diperparah ketika aku masuk fakultas kedokteran. Bukannya lebih terasah tapi justru, karena hampir setiap hari bertemu dengan peristiwa kematian dan berbagai reaksi orang yang menurutku ‘berlebihan’ ketika mendapat cobaan, ‘kesentimentilan’-ku makin mendangkal. Saat itu, misalnya, bagiku kehilangan sanak keluarga memang patut diratapi tapi tidak perlu sampai menangis meraung-raung atau sedih berkepanjangan. Bahkan kalau pun kehilangan demikian berarti berpulangnya seorang anak. Toh bisa direncanakan untuk punya anak lagi, pikirku hampir tanpa rasa (teganya..!!!). Read the rest of this entry »
Posted in Kisah, Renungan on 12/12/2008 11:02 pm by Ming
Siapa kita adalah hadiah Tuhan untuk kita. Menjadi apa kita nantinya adalah hadiah kita untuk Tuhan.
~ Eleanor Powell ~
Catatan:
Berikut ini adalah sebuah karya pena seorang sahabat yang kebetulan merayakan ulang tahunnya pada Musim Desember ini.
Renungan ulang tahun itulah yang kemudian tertuang dalam kisah yang ‘tidak biasa’ ini. Ketidakbiasaan kadangkala bisa menjadi jalan untuk menyampaikan keluarbiasaan. Semoga.
Btw, thanks, Aiek!
Hari itu seorang utusan Tuhan yang berpakaian berkilau-kilau datang padaku. Dia berkata, ”Tuhan begitu mencintaimu. Dia mengutusku untuk menanyakan hadiah apa yang kau inginkan dari-Nya pada ulangtahunmu. Kau boleh minta apa saja.”
Aku begitu terkejut, senang luar biasa, sekaligus bingung memikirkan apa yang kuinginkan. Rasanya terlalu sederhana Read the rest of this entry »
Posted in Catatan Kecil, Kisah on 11/29/2008 07:35 am by Ming
Aku memasuki ruang duka itu sendirian, kikuk dan ragu.
Ruang itu begitu kosong. Di meja tamu tidak ada orang. Hanya ada buku tamu, kotak sumbangan dan tumpukan kartu ucapan terima kasih tertata di situ, sepi. Beberapa orang duduk berkumpul di ujung jauh ruang, dekat peti jenazah. Keluarga dan sanak kadangnya, dugaku menerka setelah menatap sekilas. Tidak seorang pun yang kukenal.
Tanpa menunggu disambut, aku menuliskan nama di buku tamu dan memasukkan amplop ke dalam kotak sumbangan. Kemudian aku melangkah menuju peti jenazah, tambah kikuk dan bingung. Di dekat peti aku berhenti dan mengangguk ragu kepada orang yang kuduga putra almarhum. Segera aku mengambil sikap doa sambil menatap wajah yang menatap balik dari dalam bingkai foto di ’altar’ kecil. Doa khusuk mengalir diiringi kenangan yang lincah mengilas di depan wajah khas sobatku itu. Read the rest of this entry »
Posted in Kisah on 10/26/2008 09:04 pm by Ming
Ulang Tahun hanyalah hari pertama dari perjalanan 365 hari mengelilingi matahari . . . .
~ Tidak Dikenal ~
Aku mengecup lembut kening Candra. Dia menggeliat berbalut tidur. Penuh kantuk dia menggumamkan ucapan selamat. Kubiarkan bidadari itu meneruskan tidur dan mimpinya. Terlalu larut dia tidur semalam, bergumul dengan bahan disertasinya.
Dengan ringan aku melompat bangun dalam gulita kamar tidur. Menyambar pakaian bersih, aku melangkah ke luar dengan hati-hati, tak bersuara.
Dalam sekejap aku sudah mengguyur badan di kamar mandi. Air dingin menyergap. Tiap jengkal tubuhku terbangun. Kesadaran menjadi penuh utuh. Sekian menit kemudian, aku bersimpuh dalam meditasi pagi. Rasa bahagia yang ada membuat laku semedi itu jadi lebih kukuh dan tekun.
Jam lima aku melangkah keluar kamar dan berpapasan dengan Mama. Sebentar lagi perempuan kesayanganku itu akan sibuk mengurus sepasang cucu, putra-putriku, bersiap ke sekolah. Read the rest of this entry »
Posted in Kisah, Renungan on 09/19/2008 01:40 pm by Ming
Tiap kali aku mengunyah-ngunyah dosa orang lain, aku merasa bahwa kepuasanku mengunyah-ngunyah lebih besar ketimbang kepuasan sang pendosa saat berbuat dosa itu sendiri.
~ Anthony de Mello ~
Aku memasuki lobby hotel itu tanpa was-was. Booking kamar sudah dilakukan sejak di Jakarta sehingga kondisi fully booked karena high season tidak terlalu mengkhawatirkanku.
Di bagian reception cuma ada seorang petugas. Dan dia tengah melayani seorang tamu. Tamu itu seorang wanita setengah baya yang suami dan dua anaknya sedang bercanda riang agak jauh di lobi.
Beberapa menit berada di belakang wanita itu, aku menangkap situasi yang sedang terjadi. Dia, yang kelihatannya bertugas mengurus akomodasi untuk liburan keluarganya, sedang ngotot dengan sang receptionist. Read the rest of this entry »
Posted in Kisah, Renungan on 09/14/2008 05:20 pm by Ming
Adalah jauh lebih baik sendirian ketimbang berharap Anda sendirian.
~ Ann Landers ~
Setelah tertunda beberapa minggu, Sabtu itu aku akan mem-bengkel-kan Kijang-ku. Menurut perkiraan kegiatan itu akan memakan hampir sehari Sabtu itu. Karenanya, Candra memutuskan mengambil-alih tugas mengasuh Ena dan Peter yang, kebetulan, libur kursus. Hal ini dilakukan Candra karena mengantisipasi aku yang akan tidak mobile sekaligus memberi ’hadiah’: waktu untukku istirahat (di rumah) sampai saatnya menjemput pulang Si Kijang. (See how wonderful she is!).
Sepeninggalan ketiga buah hatiku yang turun ke Jakarta, aku bergegas ke bengkel; hanya untuk berhadapan dengan sebuah kejutan: sebuah komponen utama untuk men-service Kijang-ku tidak ready stock, perlu pesan di muka. Dan itu berarti Read the rest of this entry »
Posted in Buku, Kisah, Renungan on 09/05/2008 12:20 pm by Ming
Kita tidak bertindak benar karena kita punya kebajikan dan kemuliaan, tetapi, lebih tepatnya, kita memiliki kebajikan dan kemuliaan karena kita telah bertindak dengan benar.
~ Aristoteles ~
Sampai sekarang aku masih selalu bisa melihat cacat tekuk tusuk di pintu belakang Kijang-ku. Sudah berada di situ berbulan-bulan. Belum ada rencana memperbaiki, memulihkan ke bentuk aslinya yang mulus.
Di satu sisi, karena, tanpa diperbaiki pun, nggak ada fungsi mobil yang terganggu: masih bisa melaju baik dan aman menuju tempat yang kumaui. Jadi, cuma sebuah masalah ’kosmetik’ aja; sebuah remeh temeh yang saat ini nggak terlalu kupikirkan.
Sisi lainnya, dan ini lebih mendalam kaitannya, karena aku menganggap cacat itu sebuah peringatan akan sebuah pelajaran hidup yang berharga. Ketika cacat itu tercipta aku belajar bahwa betapa mudahnya aku menyisihkan Ena, putriku (seorang manusia) untuk mendahulukan Kijang-ku (sebuah benda). Dan setiap mengingat hal itu ada rasa sesal, sedih dan malu; dan sekaligus sebuah keinginan untuk tidak mengulang hal yang sama di depan nanti. (Untuk yang belum baca atau lupa kisahnya bisa menengok ulang Kemarahan itu.) Read the rest of this entry »