Archive for the ‘Renungan’ Category

Khilaf dan Maaf serta . . .

 

Tiap kali aku mengunyah-ngunyah dosa orang lain, aku merasa bahwa kepuasanku mengunyah-ngunyah lebih besar ketimbang kepuasan sang pendosa saat berbuat dosa itu sendiri.

~ Anthony de Mello ~

Aku memasuki lobby hotel itu tanpa was-was. Booking kamar sudah dilakukan sejak di Jakarta sehingga kondisi fully booked karena high season tidak terlalu mengkhawatirkanku.

Di bagian reception cuma ada seorang petugas. Dan dia tengah melayani seorang tamu. Tamu itu seorang wanita setengah baya yang suami dan dua anaknya sedang bercanda riang agak jauh di lobi.

Beberapa menit berada di belakang wanita itu, aku menangkap situasi yang sedang terjadi. Dia, yang kelihatannya bertugas mengurus akomodasi untuk liburan keluarganya, sedang ngotot dengan sang receptionist. Read the rest of this entry »

 

Sendirian di Suatu Sabtu

 

Adalah jauh lebih baik sendirian ketimbang berharap Anda sendirian.

~ Ann Landers ~

 Setelah tertunda beberapa minggu, Sabtu itu aku akan mem-bengkel-kan Kijang-ku. Menurut perkiraan kegiatan itu akan memakan hampir sehari Sabtu itu. Karenanya, Candra memutuskan mengambil-alih tugas mengasuh Ena dan Peter yang, kebetulan, libur kursus. Hal ini dilakukan Candra karena mengantisipasi aku yang akan tidak mobile sekaligus memberi ’hadiah’: waktu untukku istirahat (di rumah) sampai saatnya menjemput pulang Si Kijang. (See how wonderful she is!).

Sepeninggalan ketiga buah hatiku yang  turun ke Jakarta, aku bergegas ke bengkel; hanya untuk berhadapan dengan sebuah kejutan: sebuah komponen utama untuk men-service Kijang-ku tidak ready stock, perlu pesan di muka. Dan itu berarti Read the rest of this entry »

 

Pelajaran (Ekstra) tentang Mobil

 

Kita tidak bertindak benar karena kita punya kebajikan dan kemuliaan, tetapi, lebih tepatnya, kita memiliki kebajikan dan kemuliaan karena kita telah bertindak dengan benar

~ Aristoteles ~

Sampai sekarang aku masih selalu bisa melihat cacat tekuk tusuk di pintu belakang Kijang-ku. Sudah berada di situ berbulan-bulan. Belum ada rencana memperbaiki, memulihkan ke bentuk aslinya yang mulus.

Di satu sisi, karena, tanpa diperbaiki pun, nggak ada fungsi mobil yang terganggu: masih bisa melaju baik dan aman menuju tempat yang kumaui. Jadi, cuma sebuah masalah ’kosmetik’ aja; sebuah remeh temeh yang saat ini nggak terlalu kupikirkan.

 Sisi lainnya, dan ini lebih mendalam kaitannya, karena aku menganggap cacat itu sebuah peringatan akan sebuah pelajaran hidup yang berharga. Ketika cacat itu tercipta aku belajar bahwa betapa mudahnya aku menyisihkan Ena, putriku (seorang manusia) untuk mendahulukan Kijang-ku (sebuah benda). Dan setiap mengingat hal itu ada rasa sesal, sedih dan malu; dan sekaligus sebuah keinginan untuk tidak mengulang hal yang sama di depan nanti. (Untuk yang belum baca atau lupa kisahnya bisa menengok ulang Kemarahan itu.) Read the rest of this entry »

 

Thank You Card, Anyone?

  

”Terima Kasih” adalah kata-kata yang sedemikian kecil untuk perhatian sedemikian besar yang kau haturkan. 

~ Tulisan pada sebuah kartu ucapan terima kasih ~

Bertahun-tahun lalu, untuk beberapa hari, aku bertugas di Medan dan menginap di sebuah hotel di ibukota Sumatera Utara itu. Ada salah seorang receptionist yang menarik perhatian. Setiap melihat aku kembali ke hotel, dia selalu sudah siap menyerahkan kunci kamar, tanpa perlu menanyakan atau menunggu aku menyebutkan nomor kamarku. Sudah dihafalkannya nomor kamarku J. Dan menerima sikapnya itu, aku merasa tersanjung dan teperhatikan. Tidak pernah aku mengalami hal demikian dengan receptionist lain; tidak di hotel ini, tidak di hotel-hotel lain.

Ketika akhirnya aku check out, di penghujung tugas, aku meninggalkan sepucuk kartu dalam amplop tertutup untuknya (dia tidak bertugas saat itu sehingga tidak bisa kusampaikan langsung). Dalam kartu mungil itu Read the rest of this entry »

 

Warisan Pusaka

 

Kita tidak bisa mengubah kartu-kartu yang dibagikan kepada kita, tapi kita bisa memutuskan bagaimana cara memainkan kartu-kartu itu.

~ Randolph Frederick Pausch ~

Di tahun 70-an aku pernah menyaksikan Sunshine*, sebuah filem menyentuh dan mengharukan (dengan banyak lagu country John Denver, seperti Sunshine dan Leaving on a Jet Plane, sebagai musik penghias). Filem ini dibuat atas dasar kaset-kaset jurnal Jacquelyn M. Helton. Jurnal ini mencatat ’perjalanan’ Jackie memanfaatkan hari-hari terakhirnya sebelum kanker tulang merenggut nyawanya di usia 20. Jackie membuat jurnal itu sebagai ’warisan’ buat  puterinya, Jill, yang baru berusia 2 tahun saat sang ibu pergi selama-lamanya.

Aku juga pernah ’menyaksikan’ perjalanan seorang teman dekat ketika dia menjalani hari-hari akhirnya sebelum benar-benar menyerah kepada kanker payudara. Melalui e-mail yang jumlahnya terbatas, aku ’menyaksikan’ Read the rest of this entry »

 

Catatan Kecil: Lolos dari Pak Polisi

 

Aku terkejut setengah mati. Mobilku sudah meluncur paling depan melewati traffic light Kuningan. Pagi belum lagi melewati jam sembilan tiga puluh. Artinya, karena melamun, jadi ‘penjahat’-lah aku karena melanggar kawasan 3-in-1, kawasan terlarang buat pengendara tunggal macam aku sebelum jam sepuluh pagi. Sudah kadung basah . . . ya mandi sekalian, kata pepatah. Jadi, meluncur lebih jauhlah aku merambah Jalan Gatot Subroto yang 3-in-1. Read the rest of this entry »

 

Para Puteri Daud

 

Terlalu banyak orang menilai tinggi apa yang bukan mereka sesungguhnya dan menilai rendah apa yang mereka sesungguhnya.

~ Malcolm S. Forbes ~

Tim volley ‘cabang’ tempat Candra bercokol, yang tidak masuk hitungan dalam pekan olahraga perusahaannya, akan turun hari Minggu itu. Pertandingan pertama, dilangsungkan minggu sebelumnya, berhasil dilalui dengan cukup mudah; lawannya memang ‘nggak level’. Tapi pertandingan kedua, menurut perkiraan Candra, tidak akan berkelanjutan ke babak berikutnya bagi tim underdog-nya. Lawan yang akan dihadapi, di atas kertas, lebih baik dalam materi pemain.

Entah kenapa, ketika mendengar ungkapan Candra yang rada pesimis itu, aku seperti melihat bakal adanya ‘pertarungan Read the rest of this entry »

 

Nina, Pretty Ballerina

 

Cermin mestinya berpikir lebih panjang sebelum memantulkan.

Jean Cocteau ~

Banyak orang yang bisa menemukannya setiap hari kerja: pagi, siang dan sore hari. Tiap pagi cukup banyak orang berpapasan atau bersamanya ketika ia berangkat dari tempat tinggal, berkereta-api ke tengah kota, dan memasuki tempat kerja. Tidak sedikit orang sekantor berada di sekitarnya sepanjang pagi dan siang. Dan tiap sore, duyunan orang bisa menemukannya kembali di tengah arus balik menuju tempat tinggal di pinggir kota.

Nina memang sepi kata, penuh malu dan sarat kikuk. Sehingga jadilah dia cuma seraut wajah di antara sejuta, seorang gadis tanpa nama. Tidak istimewa sehingga lolos dari perhatian, tidak menonjol sehingga terabaikan . . . . Read the rest of this entry »

 

Catatan Kecil: Kung Fu Panda

Po, sang Ksatria Naga

Po, sang Ksatria Naga

Ada yang nyantel seusai menyaksikan perjalanan fun-tastic Kokoh Po menjadi Ksatria Naga dalam Kung Fu Panda. Ada yang menggelitik ketika mengamati 3 generasi Master Kung Fu di filem itu.

Ada Master Oogway, pengusung ilmu Kung Fu yang hening bening, yang akhirnya ‘dimatikan’. Ada Master Shifu yang Read the rest of this entry »

 

Omongan Goblog

 

Sampai Anda mau terlihat goblog, Anda tidak pernah memiliki kemungkinan menjadi hebat.

~ Cher ~

Telepon genggamku berdering. Isteriku memanggil. Ada apa lagi, gumamku dalam hati. Baru saja kami, dengan mobil masing-masing, berpisah di pertigaan selepas pintu tol. Aku langsung beranjak pulang; Candra akan beli susu untuk anak-anak.

”Mobil nggak bisa di-start. Kelihatannya akinya soak,” lapor Candra.

Gerutuku dalam hati jadi panjang pendek. Baru keluar bengkel (nggak sampai satu jam lalu) kok sudah mogok. Badan sudah capek . . . eh mesti putar balik.  Rumah sudah di ujung jalan harus dijauhi lagi. Huuh . . . .

”Coba tadi kamu nggak usah beli susu,” gerutuku lahirlah, melalui sambungan telepon, sampai ke telinga isteriku.

Weleh . . . sebuah omongan goblog. Read the rest of this entry »