<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Kilau Embun</title>
	<atom:link href="http://kilauembun.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kilauembun.com</link>
	<description>Percik Permenungan, Pemikiran dan Pengalaman</description>
	<pubDate>Sun, 31 May 2009 08:46:44 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sebuah Tanya yang Mengusik</title>
		<link>http://kilauembun.com/2009/05/31/sebuah-tanya-yang-mengusik/</link>
		<comments>http://kilauembun.com/2009/05/31/sebuah-tanya-yang-mengusik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 May 2009 08:44:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ming</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>

		<category><![CDATA[reuni]]></category>

		<category><![CDATA[smk strada]]></category>

		<category><![CDATA[STM Strada]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kilauembun.com/?p=175</guid>
		<description><![CDATA[

Peringatan catur dasa warsa SMK Strada memberiku kesempatan untuk berjumpa kembali dengan Pastor Opzeeland, mantan Kepala Sekolah SMK itu, yang juga bekas sekolahku di akhir tahun 70-an.
Bersama beberapa teman sekelas, aku berhasil mendekati dan menjabat tangan beliau. Mempertimbangkan begitu banyaknya orang lain yang juga ingin bertemu beliau, aku membatasi diri hanya memperkenalkan diri: menyebutkan nama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div id="attachment_183" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-183" src="http://kilauembun.com/wp-content/uploads/2009/05/reuni_stm1-300x185.jpg" alt="Pose Bareng itu" width="300" height="185" /><p class="wp-caption-text">Pose Bareng itu</p></div>
</div>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:45.1pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="SV"><span style="font-size:12pt;">Peringatan catur dasa warsa SMK Strada memberiku kesempatan untuk berjumpa kembali dengan Pastor Opzeeland, mantan Kepala Sekolah SMK itu, yang juga bekas sekolahku di akhir tahun 70-an.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:45.1pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="SV"><span style="font-size:12pt;">Bersama beberapa teman sekelas, aku berhasil mendekati dan menjabat tangan beliau. Mempertimbangkan begitu banyaknya orang lain yang juga ingin bertemu beliau, aku membatasi diri hanya memperkenalkan diri: menyebutkan nama dan angkatan serta jurusan. Menatap wajah beliau, aku menangkap bahwa beliau ingin tahu lebih banyak.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:45.1pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="SV"><span style="font-size:12pt;">Menangkap gelagat, seorang sahabatku menimpali situasi dengan berkata, &#8220;Dia ini selalu jadi juara umum, Romo. Dari kelas satu sampai lulus . . . .&#8221; Agaknya penjelasan itu pun tidak <span id="more-175"></span>membantu beliau mengenali bekas murid di depannya. Beliau tersenyum minta pengertian. Aku membalas tersenyum, memahami: dari ribuan mantan muridnya, apa lah arti seorang Ming bahkan dengan prestasi sebagai juara umum 3 tahun berturut-turut sekali pun.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:45.1pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="SV"><span style="font-size:12pt;">Kemudian kami mengabadikan pertemuan itu dengan foto bersama beliau. Aku kebetulan berdiri persis di sisi beliau. Di antara kesibukan berpose dan mengatur berdiri, aku digamit beliau dan kemudian dia melontarkan sebuah tanya yang terus mengusik, bahkan sampai sekarang:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:45.1pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="SV"><span style="font-size:12pt;"><strong>&#8220;Apakah masih <em>champion</em> di luar sana, di luar bangku sekolah?&#8221;</strong></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kilauembun.com/2009/05/31/sebuah-tanya-yang-mengusik/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sekolahku Sayang, Sekolahku . . .</title>
		<link>http://kilauembun.com/2009/05/30/sekolahku-sayang-sekolahku/</link>
		<comments>http://kilauembun.com/2009/05/30/sekolahku-sayang-sekolahku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 May 2009 02:29:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<category><![CDATA[reuni sekolah]]></category>

		<category><![CDATA[SMK Rajawali]]></category>

		<category><![CDATA[STM Rajawali]]></category>

		<category><![CDATA[STM Strada]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kilauembun.com/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[ 

Pulang ke kotamu,
Ada setangkup haru dalam rindu,
Masih seperti dulu,
Tiap sudut menyapaku bersahabat,
Penuh selaksa makna . . . . 
~ Katon Bagaskara dalam Yogyakarta ~

  
Masih seperti dulu. Bangunan tua itu masih setia berbalut ke-lawas-an. Bangunan berlatar depan gudang itu (karenanya, sering disebut STM Gudang) belum tersentuh pemugaran. Rasanya setiap bata di situ masih bata yang sama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<div style="border-top:blue 2pt solid;border-bottom:blue 1pt solid;padding:1pt 10pt 4pt;">
<p class="MsoNormal" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:medium none;border-bottom:medium none;text-align:center;margin:6pt 0 0;padding:0;" align="center"><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:Verdana;" lang="SV"><span style="font-size: 10pt; color: blue; font-family: Verdana; mso-fareast-font-family: SimSun; mso-bidi-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: SV; mso-fareast-language: ZH-CN; mso-bidi-language: AR-SA;" lang="SV">Pulang ke kotamu,<br />
Ada setangkup haru dalam rindu,<br />
Masih seperti dulu,<br />
Tiap sudut menyapaku bersahabat,<br />
Penuh selaksa makna . . . .</span></span></strong><strong> </strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:medium none;border-bottom:medium none;text-align:center;margin:6pt 0 0;padding:0;" align="center"><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;">~ Katon Bagaskara dalam <em>Yogyakarta</em> ~</span></p>
</div>
<p> <span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Masih seperti dulu. Bangunan tua itu masih setia berbalut ke-<em style="mso-bidi-font-style: normal;">lawas</em>-an. Bangunan berlatar depan gudang itu (karenanya, sering disebut STM Gudang) belum tersentuh pemugaran. Rasanya setiap bata di situ masih bata yang sama dengan bata yang dipasangkan paling sedikit empat puluh tahun yang lalu. Setiap jengkal <em style="mso-bidi-font-style: normal;">footprint</em>-nya, seakan-akan, tidak bergeming: tidak menyempit, tidak meluas. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Kesan itu mengiringiku ketika Sabtu pagi itu , 9 Mei 2009, aku menerobos halaman dan kemudian masuk &#8216;ruang tunggu&#8217; Sekolah Menengah Kejuruan (dulu berjuluk &#8217;salah kaprah&#8217; Sekolah Teknik Menengah alias STM*) <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Strada</em> di bilangan Rajawali Selatan itu. Kesan itu begitu melekat sehingga aku sejenak melupakan acara yang <span id="more-165"></span>tengah kuhadiri: pesta ulang tahun catur dasa warsa (40 tahun) eks sekolahku. Kesan itu juga yang menjadikan aku mengabaikan kehadiran ratusan orang yang ber-<em style="mso-bidi-font-style: normal;">seliwer</em>-an di sekitarku: adik-adik kelas (walau menyimak usia mereka lebih tepat kalau aku sebut &#8220;anak-anak kelas&#8221;) yang melayani registrasi, kelompok-kelompok berbagai angkatan yang reuni bertukar kangen rindu nostalgia, anggota panitia yang rajin memantau suasana, dan para guru yang tak kukenal dan lebih muda dariku. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Dan kesan itu menemani ketika aku, digelayuti nostalgia, menyusuri jengkal demi jengkal bangunan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">alma mater</em>-ku itu. Tiap jengkal seperti mengorek, mengusik dan menarik-narik kenangan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Lantai-lantainya yang sekarang sudah berkeramik-ria, sepertinya, masih bisa memperlihatkan bayang ribuan langkah yang pernah aku dan kawan-kawan jejakkan, lompatkan dan larikan di atasnya; langkah dan derap teruna muda penuh semangat sarat cita-cita.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Atap seng yang tinggi mengawang masih begitu kental memberi warna &#8216;kegudangan&#8217; sekolah ini; seperti puluhan tahun yang lalu, kini pun tetap tidak lekang dan tidak bosan menaungi dan meneduhi tiap jengkal bangunan ini berikut insan-insan berjuluk guru dan murid. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Dinding-dinding kelas seolah-olah masih menggemakan suara ajar para guru yang serius-padat-ilmu macam &#8221; . . . frekuensi audio bisa memilih memasuki jalur kapasitansi atau jalur induktansi berdasarkan nilai resistansi relatifnya . . .&#8221; atau yang konyol-sarat-sindiran macam &#8221; . . . bagaimana kau bisa pandai kalau yang kau simak bukan diktat tapi Dik-Tati? . . . .&#8221; <span style="mso-spacerun: yes;"> </span>Tidak kalah kuat gema riuh cakap dan celoteh para siswa yang ditingkahi keceriaan remaja muda dan ke-<em style="mso-bidi-font-style: normal;">badung</em>-an kelompok <em style="mso-bidi-font-style: normal;">cowok-only</em>. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Sebuah ruang lepas <em style="mso-bidi-font-style: normal;">plong</em> di tengah-tengah bangunan ini (yang selalu kuanggap &#8220;aula&#8221;), sepertinya, masih sarat dengan rekaman setiap &#8216;upacara bendera Senin pagi&#8217;. Bendera yang dikibarkan tanpa tiang, lagu <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Indonesia Raya</em> yang dilantunkan khidmat , taklimat singkat dan amat santun Romo Opzeeland masih menjejakkan bayang di benak. Secara khusus ruang besar ini pasti juga merekam sebuah &#8216;upacara luar biasa&#8217; ketika Romo Opzeeland menghukum kami, murid-murid kelas 3 Elektronika angkatanku, dengan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">skors</em> 1 hari karena sehari sebelumnya secara nekad dan kolektif (satu kelas penuh) kami melakukan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">walk-out</em> dari pelajaran tambahan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Civic</em> (kewarganegaraan) pak Bagio yang selalu berpakaian dinas AL itu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Ruang kantin yang bersempadan langsung tanpa sekat dengan ruang olah raga seperti tidak mau kalah melontarkan kenangan aroma masa lalu. Aroma makanan dan minuman sederhana (macam mie goreng bumbu sambal kacang dan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">es mambo</em>) yang dulu merupakan pelengkap serta penyedap waktu <em style="mso-bidi-font-style: normal;">break</em> dan pengikat keceriaan-keakraban, tiba-tiba seperti hadir di indra ciumku dan mengharukan kalbu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Ruang olahraga di sebelah kantin yang kelihatan makin renta seakan-akan masih mampu tidak cuma bercerita tentang senam dan bola tangan walau cuma dua cabang olah raga itu yang jadi sebagian besar &#8216;makanan&#8217; kegiatan olahraga kami. Ruang itu lebih punya kenangan seru tentang <em style="mso-bidi-font-style: normal;">class meeting</em> walau biasanya cuma berisi pertandingan bulutangkis antar kelas. Gema gairah dan riuh rendah pertandingan bulu tangkis di ruang sederhana ini rasanya tidak kalah dengan gema di stadion Senayan atau stadion Wembley. Nama-nama mereka yang turun ke gelanggang tidak pernah beken di All England tapi di ruang ini nama-nama itu bak dewa dan pesohor kelas wahid yang mampu memancing sorak dan tepuk tangan membahana yang menggetarkan dinding-dinding semen telanjang ruang ini.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;"><em>Last but least,</em><span style="font-family: Georgia;"> aku termangu lama di ruang ini: ruang praktek Elektronika. Bahkan, tata letak ruang yang sudah berubah tidak menghalangi kisah yang masih bisa diceritakan dinding-dinding kokoh ruang ini. </span><span style="font-family: Georgia; mso-ansi-language: ES;" lang="ES">Kisah tentang murid-murid di tahun 1976 dan 1977. Kisah tentang banyak remaja yang bermetamorposa dari si kikuk-dungu-buta menjadi prigel-piawai-melek elektronika. Kisah tentang tangan-tangan kikuk menjadi tangan terampil. Kisah tentang tangan yang tersengat listrik 400-an Volt. Kisah tentang salah <em style="mso-bidi-font-style: normal;">colok</em> (kabel speaker masuk ke <em style="mso-bidi-font-style: normal;">steker</em> listrik dan kemudian cuma berbunyi &#8220;duup&#8221; diiringi asap <em style="mso-bidi-font-style: normal;">ngebul</em>) yang kemudian jadi <em style="mso-bidi-font-style: normal;">joke</em> kelas kami. Kisah tentang &#8216;parade seribu radio&#8217; ketika praktek merakit radio berlangsung hampir di semua meja praktek.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-align: center;" align="center"><span style="font-family: Georgia; mso-ansi-language: ES;" lang="ES">__________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Tahun 1975 – 1977 bukanlah tahun-tahun manis buatku. Tahun-tahun itu merupakan pengejawantahan kesadaran bahwa aku harus segera mandiri dan membantu adik-adik. Tahun-tahun itu merupakan saat memupuskan dengan berat dan alot cita-cita masa kecil (jadi dokter kayak dr. Kildare, idolaku). </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Ketika menyusuri ruang demi ruang &#8217;sekolah gudang&#8217; ini, aku merasakan bahwa ruang-ruang itu telah menjadi pengobat ketidakmanisan masa itu. Ruang-ruang itu, dengan para guru, para teman dan sahabat, deret pelajaran dalam kurikum berikut interaksi di antaranya, telah menjadi kawah Candradimuka. Ruang-ruang itu sekaligus telah menjadi rumah, telah menjadi <em style="mso-bidi-font-style: normal;">home</em>. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Ketika, akhirnya, aku &#8216;duduk manis&#8217; kembali di &#8220;aula&#8221; untuk mengikuti misa, ada rasa tenteram dan menyenangkan menyelimuti: aku tengah pulang kandang, <em style="mso-bidi-font-style: normal;">I&#8217;m home!</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:9pt;">* &#8220;Sekolah Teknik Menengah (STM)&#8221;, secara tata bahasa, buatku selalu menggelikan: yang menengah itu sekolah atau teknik-nya?</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kilauembun.com/2009/05/30/sekolahku-sayang-sekolahku/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Kecil (di) Atas Salib</title>
		<link>http://kilauembun.com/2009/04/10/catatan-kecil-di-atas-salib/</link>
		<comments>http://kilauembun.com/2009/04/10/catatan-kecil-di-atas-salib/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Apr 2009 16:43:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ming</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Catatan Kecil]]></category>

		<category><![CDATA[Katolik]]></category>

		<category><![CDATA[INRI]]></category>

		<category><![CDATA[Kepanjangan INRI]]></category>

		<category><![CDATA[Raja Orang Yahudi]]></category>

		<category><![CDATA[Salib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kilauembun.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[

Iesus Nazareus - Rex Iudaeorum.

Sepotong catatan yang diplakatkan di atas kepala Yesus ketika Dia disalibkan, dulu. Dan sekarang catatan itu cuma ditorehkan sebagai INRI di salib-salib kristiani. 
Santo Yohanes, sang biografer Yesus, sempat menambahkan kisah kecil tentang catatan itu: “INRI” itu sempat jadi bahan ‘debat politik’ sengit antara Ponsius Pilatus (penguasa Roma di bumi Israel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><em><span style="font-family: Georgia;"></span></em></div>
<p><div id="attachment_162" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><img class="size-full wp-image-162" title="INRI" src="http://kilauembun.com/wp-content/uploads/2009/04/inri_small.jpg" alt="Plakat di Atas Salib" width="230" height="213" /><p class="wp-caption-text">Plakat di Atas Salib</p></div><br />
<em><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size: 12pt;"></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;">Iesus Nazareus - Rex Iudaeorum.</p>
<p></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size: 12pt;">Sepotong catatan yang diplakatkan di atas kepala Yesus ketika Dia disalibkan, dulu. Dan sekarang catatan itu cuma ditorehkan sebagai <em>INRI</em> di salib-salib kristiani. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size: 12pt;">Santo Yohanes, sang biografer Yesus, sempat menambahkan kisah kecil tentang catatan itu: “INRI” itu sempat jadi bahan ‘debat politik’ sengit antara Ponsius Pilatus (penguasa Roma di bumi Israel waktu itu) dengan para pemuka agama Yahudi (‘sang pemimpin’ rakyat di Israel).<span id="more-152"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size: 12pt;">Drama ‘debat politik’ itu melahirkan ‘pemikiran nakal’ di benakku: </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size: 12pt;">Ponsius Pilatus ‘kalah’ telak di arena pengadilannya sendiri: gagal melepaskan Yesus dari jerat hukuman mati. Untuk membalas ‘kekalahan’-nya itu, ia menyuruh bawahannya menuliskan catatan yang berbunyi “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi” (dalam bahasa latinnya “Iesus Nazareus - Rex Iudaeorum”) untuk dipakukan di atas salib Yesus.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size: 12pt;">Pernyataan yang singkat itu agaknya ditengarai para pemuka agama Yahudi sebagai sebuah usaha menohok keberhasilan mereka menghukum mati Yesus. Tulisan itu seolah-olah mengolok-olok orang Yahudi: menghukum mati raja mereka sendiri. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size: 12pt;">Jadilah, sebuah protes dilayangkan kepada Pilatus agar tulisan itu diubah menjadi “Dia berkata ‘Aku adalah Raja orang Yahudi’”. Sebuah tulisan yang mengucilkan Yesus dari masyarakat Yahudi sekaligus menjadikan Yesus seperti orang tidak waras (menganggap diri Raja orang Yahudi).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size: 12pt;">Dan Ponsius Pilatus yang menyadari ‘permainan’ yang sedang berlangsung, dengan tegas menetapkan kata akhir, “Apa yang telah kutulis, tetap tertulis” . . . .</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size: 12pt;">Merenungi inskripsi <em>INRI</em> pada salib dalam genggamanku hari ini, aku jadi bertanya-tanya: Tidakkah aku, dalam keseharianku, terombang-ambing antara “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi” dan “Dia berkata ‘Aku adalah Raja orang Yahudi’”?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kilauembun.com/2009/04/10/catatan-kecil-di-atas-salib/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jogging Pagi, Jogging . . .</title>
		<link>http://kilauembun.com/2009/03/21/jogging-pagi-jogging/</link>
		<comments>http://kilauembun.com/2009/03/21/jogging-pagi-jogging/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2009 14:11:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ming</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<category><![CDATA[bercengkerama]]></category>

		<category><![CDATA[berkomunikasi]]></category>

		<category><![CDATA[jogging]]></category>

		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kilauembun.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[ 
 

Aku harus berolahraga di pagi hari sebelum otakku menyadari apa yang sedang aku lakukan. 
~ Marsha Doble ~


Masih dirundung kantuk jam setengah lima pagi, aku mengikuti ajakan Candra: meninggalkan kenyaman ranjang, mengenakan sepatu lari, menerobos udara sangat sejuk Cibubur, ber-jogging-ria di jalan-jalan dalam kompleks perumahan.
Berlari sekian ratus meter, kantuk sudah menyisih, sirna. Dan seperti sebuah kewajaran, lari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <br />
 </p>
<div style="border-top:blue 2pt solid;border-bottom:blue 1pt solid;padding:1pt 10pt 4pt;">
<p class="MsoNormal" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:medium none;border-bottom:medium none;text-align:center;margin:6pt 0 0;padding:0;" align="center"><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:Verdana;" lang="SV"><span style="font-size: 10pt; color: blue; font-family: Verdana; mso-fareast-font-family: SimSun; mso-bidi-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: SV; mso-fareast-language: ZH-CN; mso-bidi-language: AR-SA;" lang="SV">Aku harus berolahraga di pagi hari sebelum otakku menyadari apa yang sedang aku lakukan.</span></span></strong><strong> </strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:medium none;border-bottom:medium none;text-align:center;margin:6pt 0 0;padding:0;" align="center"><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;">~ Marsha Doble ~</span></p>
</div>
<p><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Masih dirundung kantuk jam setengah lima pagi, aku mengikuti ajakan Candra: meninggalkan kenyaman ranjang, mengenakan sepatu lari, menerobos udara sangat sejuk Cibubur, ber-<em>jogging</em>-ria di jalan-jalan dalam kompleks perumahan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Berlari sekian ratus meter, kantuk sudah menyisih, sirna. Dan seperti sebuah kewajaran, lari kecil kami mulai ditingkahi pembicaraan. Suara lembut Candra mulai merinci kekecewaan Ena gagal lolos seleksi SMP pilihannya. Aku menangkap nada gundah di suara Candra, mewakili kesedihan Ena. Kesedihan itu menyeberang dan menular ke sanubariku. Tepukan lembutku di pundak Candra menyampaikan simpati, serasa sepenanggungan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Peter dengan yoyo idamannya terbahas dalam meter-meter yang kami lalui berikutnya. Tingkah ke-Tigger*-an putra bungsu kami itu, <span id="more-143"></span>seperti sering terjadi sebelumnya, menggelitik syaraf tawa kami. Canda dan kelakar jadi ikut mampir dalam lari pagi kami. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Entah karena udara yang sangat sejuk sehingga selalu menjaga kepala tetap dingin, entah karena pagi yang masih dini dan lengang sehingga suara pembicaraan terjaga dalam separuh bisik dan tak pernah memasuki ambang sengit, yang jelas pembicaraan pagi kami mengalir lancar, bersahabat dan akrab.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Ketika <em>jogging</em> berakhir sekitar setengah jam kemudian, nafas sudah tersengal dan sedikit capek menggayuti kaki kami. Kantuk sudah menguap habis. Hati jadi ringan karena ’omong-omong’ dan canda pagi kami. Sebuah awal yang bagus memulai hari . . . .</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Hati yang ringan, keakraban yang melegakan, serta kedekatan yang menghangatkan demikian memang makin merekatkan hubungan kami. Tapi menumbuhkembangkan hal ini bukanlah kebetulan, apalagi cuma keberuntungan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Menilik waktu yang kami miliki, bercengkerama dan berbincang-bincang akrab adalah ’barang mewah’ yang tidak selalu bisa kami peroleh. Rutinitas ’9-to-5’ menyeret sekaligus memisahkan kami hampir sepanjang hari. Belum lagi jebakan ’tua di jalan’ yang terlalu banyak merampok waktu yang tidak pernah lebih panjang dari 24 jam. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Pilihan kebiasaan dan kesibukan yang sering tidak sama ketika berada di rumah makin membuat bercengkerama menjadi aktivitas yang terancam punah. Aku cenderung tidur larut; Candra sebaliknya. Aku suka duduk berlama-lama di depan televisi atau membaca apa saja; Candra selalu ’berkeliaran’ di seantero rumah dan hampir tidak pernah diam. Kecuali Sabtu dan Minggu, kursi-kursi di meja makan kami hampir tidak pernah lengkap terisi pada jam makan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Untunglah tiap pagi kami masih bisa berangkat kerja bareng. Perjalanan sekitar satu jam tiap pagi itu bisa jadi peluang bercerita, berbagi dan bercanda. Karenanya, selalu ada bersit kesedihan dan kecewa kalau, karena satu dan lain hal, Candra harus membawa mobil sendiri. Hilanglah satu kesempatan berbagi dan bersama.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Bahkan kesempatan yang sudah langka begitu pun, kalau tidak diwaspadai, bisa tercuri <em>ludes</em>. Misalnya, bila berita di radio (yang dihidupkan untuk tahu tentang situasi lalin yang akan kami lalui) begitu menarik, mencuri seluruh perhatianku dan ’menelantarkan’ Candra. Bisa juga, sisa-sisa kantuk menyergap Candra sehingga harus terlelap meninggalkan aku ’sendirian’. Atau kami membiarkan pikiran melayang-layang menyongsong kerja yang masih sekian kilometer atau sekian jam di depan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-align: center;" align="center"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">__________________________________________</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;"><em>Jogging,</em></span></span><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;"> pagi baik untuk kesehatan jasmani. Itu aku tahu betul. Tapi, begitu pun, selalu saja ada yang memberati aktivitas itu: ada keengganan meninggalkan kenyamanan tidur, ada kemalasan menerobos dinginnya Cibubur. Tapi, ketika <em>jogging</em> pagi juga baik untuk ’kesehatan’ kebersamaanku bersama Candra, rasanya aku punya sejuta alasan untuk membuang enggan, segan dan malas. <em>OK, then, <span style="mso-spacerun: yes;"> </span>let’s jogging</em>!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: &quot;Palatino Linotype&quot;; mso-ansi-language: SV;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt;"><span style="font-family: &quot;Palatino Linotype&quot;; mso-ansi-language: SV;" lang="SV">* </span><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;">Tigger adalah teman Winnie the Pooh yang selalu ceria dan tak kenal sedih.</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kilauembun.com/2009/03/21/jogging-pagi-jogging/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mestikah Berubah?</title>
		<link>http://kilauembun.com/2009/02/28/mestikah-berubah/</link>
		<comments>http://kilauembun.com/2009/02/28/mestikah-berubah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 00:53:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inge</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[berubah]]></category>

		<category><![CDATA[mengubah diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kilauembun.com/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[ 

Bila tidak satu pun pernah berubah, tidak akan ada kupu-kupu. 
~ Anonim ~


Aku pindah ke Amerika tahun 2002, ke Duluth, sebuah kota turis. Letaknya persis di pinggir Lake Superior – kumpulan air tawar terbesar di dunia.  Indah pemandangannya dan nyaman hawanya. Karenanya, Duluth populer bagi banyak orang di musim panas. 
Aku dan Charlie, suamiku, membuka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<div style="border-top:blue 2pt solid;border-bottom:blue 1pt solid;padding:1pt 10pt 4pt;">
<p class="MsoNormal" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:medium none;border-bottom:medium none;text-align:center;margin:6pt 0 0;padding:0;" align="center"><span style="font-size: 10pt; color: #0000ff; font-family: Verdana;"><span style="font-size: 10pt; color: #0000ff; font-family: Verdana;"><span style="font-size: 10pt; color: #0000ff; font-family: Verdana;"><strong><span style="font-size: 10pt; color: #0000ff; font-family: Verdana;"><span style="font-size: 10pt; color: blue; font-family: Verdana; mso-fareast-font-family: SimSun; mso-bidi-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: SV; mso-fareast-language: ZH-CN; mso-bidi-language: AR-SA;" lang="SV">Bila tidak satu pun pernah berubah, tidak akan ada kupu-kupu. </span></span></strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:medium none;border-bottom:medium none;text-align:center;margin:6pt 0 0;padding:0;" align="center"><span style="font-size: 10pt; color: #0000ff; font-family: Verdana;">~ <span style="font-size: 10pt; color: #0000ff; font-family: Verdana;">Anonim </span>~</span></p>
</div>
<div>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Aku pindah ke Amerika tahun 2002, ke Duluth, sebuah kota turis. Letaknya persis di pinggir Lake Superior – kumpulan air tawar terbesar di dunia.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Indah pemandangannya dan nyaman hawanya. Karenanya, Duluth populer bagi banyak orang di musim panas.<span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Aku dan Charlie, suamiku, membuka bisnis impor: mendatangkan furnitur dan aneka barang dekorasi dari Indonesia.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Awalnya, bisnis ini melayani pembeli grosir kemudian, setahun setelahnya, kami juga membuka toko.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Dua kali setahun kami pergi ke empat kota mengikuti pameran grosir.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Upah terbesar yang kami terima adalah mendengar kekaguman orang Amerika akan hasil karya seni negeri kita.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Mereka ternganga karena tidak mengira itu semua hasil <span id="more-126"></span>kerja tangan artisan kita, yang kalau dibuat di Amerika sini bisa puluhan kali lipat harganya.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Toko kami memutar lagu-lagu Indonesia dari keroncong, gamelan Jawa dan musik Bali sampai album <em>Elfa’s Singers</em>.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Banyak yang ingin membeli rekaman lagu-lagu itu; sayang kami tak punya duplikat karena tidak terpikir buat menjual CD Indonesia.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Kami juga melayani pengiriman barang ke banyak kota lain di Amerika, bahkan kami punya pelanggan dari Hawaii dan Alaska. Tak jarang kami menerima kiriman kartu terima kasih atau telepon dari konsumen yang puas dengan servis kami dan tata krama orang Asia (Indonesia, tepatnya!).<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Tanggapan seperti ini tidak bisa diganti dengan uang, nikmatnya sulit diukur.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Lumernya ekonomi Amerika mulai terasa sejak awal 2008. Ketika kami pergi ke pameran grosir, penurunan pesanan sudah terasa.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Waktu itu kami masih berharap roda bisa naik kembali meskipun cukup was-was mendengar berbagai prediksi soal ekonomi Amerika.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Ketika musim semi hampir berlalu dan kami melihat penurunan bisnis yang luar biasa dibanding tahun lalu, rasa was-was berganti jadi rasa takut.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Kami mulai mendiskusikan jalan keluar yang mesti diambil. Beberapa pilihan dipikirkan dengan pilihan terakhir adalah melikuidasi semua barang dan menutup bisnis kami. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Kami masih berharap “musim panas nanti pasti ada perubahan”.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Sialnya, perubahan yang diharapkan tidak terjadi, yang ada justru penurunan dahsyat.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Bermacam cara kami pikirkan – naikkan dana iklan, turunkan harga barang, ikut <em>State Fair</em> supaya bisa me-<em>lego</em> barang lebih cepat, berikan diskon musim panas – tapi tak banyak perubahan kami lihat.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Anehnya, jalan terakhir yang pernah kami setujui (likuidasi) tidak kami matangkan langkahnya.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Padahal kalau kami mau realistis, likuidasi itu jalan paling masuk akal supaya kami bisa menyelesaikan obligasi kami pada pihak lain.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Selama lebih dari dua bulan kami maju mundur, saling tunjuk, saling dorong siapa yang mesti mengambil keputusan.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Kami berlindung di balik harapan dan iman padahal intinya kami takut mengalami perubahan besar dalam keseharian kami.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Likuidasi?<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Lalu setelah itu mau apa?<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Selama 26 tahun Charlie memiliki bisnis pribadi (<em>Wine/Liquor Store</em> lalu <em>IM Imports</em>), sekarang mesti bekerja untuk orang lain?<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Aku sudah menikmati kepuasan menjual Indonesia, bisa mudik 1-2 kali setahun, tiba-tiba mesti mulai memikirkan untuk bekerja kantoran lagi?<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Di usia kepala lima ini?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Bukan main beratnya usaha menyeberangi jembatan perubahan itu.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Segala macam “<em>what if</em>” dipikirkan. Sampai akhirnya kami terpojok dan sadar bahwa 2008 sudah hampir habis.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Kalau <em>holiday shopping</em> terlewatkan, likuidasi bakal makin sulit dijalankan karena terus terang kami tidak tahu apa yang akan terjadi di tahun yang baru.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Senin, September 15 (aku ingat betul). Malam itu kami sekali lagi berdoa rosario, meminta diberi telinga buat mendengar dan menyerahkan semua usaha ke tangan Tuhan.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Esoknya kami menghubungi likuidator dan bertanya secepat apa kiranya proses likuidasi ini.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Jawabannya di luar dugaan karena si likuidator berkata “Poskan cek tanda jadi hari ini, besok kami terima, kami langsung memesan tiket.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Kamis tim kami tiba di Duluth. Jumat, Sabtu, Minggu kalian tutup toko dengan alasan inventorisasi. Senin kita buka dan likuidasi dimulai”.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Dalam waktu lima hari kami menghubungi media, menyerahkan desain iklan, mengganti harga produk, mereorganisasi toko, memasang poster dan menyiapkan bermacam <em>banner</em>.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Lima hari!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Dalam waktu empat minggu setelah itu hutang di bank kami lunasi, satu demi satu obligasi kami selesaikan.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Masih ada yang tersisa tapi kami tahu kami melangkah ke arah yang<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>positif.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Ternyata likuidasi tidak sulit. Ternyata perubahan itu asyik. Beban rasanya terangkat, tidur kembali nyenyak.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Ekonomi Amerika masih babak belur, tapi rasanya kami bisa melihat cahaya lain di 2009.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Seringkali, karena ketakutan dan keraguan akan apa yang akan terjadi, kita bertahan di tempat yang sebenarnya tidak memberikan kenikmatan.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Rasanya itu tempat yang aman karena kita mengenalnya, karena sudah<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>lama kita berjalan di tempat yang sama. Padahal rasa itu semu. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0pt; text-indent: 26.95pt;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Perubahan itu ibarat kelahiran. Semua bayi menangis dan berteriak waktu memasuki dunia ini. Namun mayoritas langkah setelah itu menuju kemajuan – duduk, berjalan, berlari, dan seterusnya.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Hidup itu roda, setiap akhir membawa awal baru.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Karenanya, kalau mempertanyakan “<em>what if</em>” baiknya kita memikirkan opsi yang positif. <em>Change is good</em> … jangan takut!</span></span></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kilauembun.com/2009/02/28/mestikah-berubah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Pertama</title>
		<link>http://kilauembun.com/2009/02/13/cinta-pertama/</link>
		<comments>http://kilauembun.com/2009/02/13/cinta-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Feb 2009 15:42:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ming</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<category><![CDATA[cinta monyet]]></category>

		<category><![CDATA[Cinta Pertama]]></category>

		<category><![CDATA[kisah cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kilauembun.wordpress.com/?p=493</guid>
		<description><![CDATA[ 

Ketika cinta bukan kegilaan, itu bukanlah cinta. 
~ Pedro Calderon de la Barca  ~

Catatan:
Aku ingat sebuah kisah cinta beberapa hari ini ketika mempersiapkan tulisan untuk Valentine&#8217;s Day di sini. Kisahnya dari sebuah buku milik Papa (yes . . . my Pop is also an avid reader). Tapi sudah bertahun-tahun tidak pernah kulihat di mana buku itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<div style="border-top:blue 2pt solid;border-bottom:blue 1pt solid;padding:1pt 10pt 4pt;">
<p class="MsoNormal" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:medium none;border-bottom:medium none;text-align:center;margin:6pt 0 0;padding:0;" align="center"><span style="font-size: 10pt; color: #0000ff; font-family: Verdana;"><span style="font-size: 10pt; color: #0000ff; font-family: Verdana;"><span style="font-size: 10pt; color: #0000ff; font-family: Verdana;"><strong><span style="font-size: 10pt; color: #0000ff; font-family: Verdana;">Ketika cinta bukan kegilaan, itu bukanlah cinta</span><span style="font-size: 10pt; color: #0000ff; font-family: Verdana;">.</span></strong><strong> </strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:medium none;border-bottom:medium none;text-align:center;margin:6pt 0 0;padding:0;" align="center"><span style="font-size: 10pt; color: #0000ff; font-family: Verdana;">~ <span style="font-size: 10pt; color: #0000ff; font-family: Verdana;">Pedro Calderon de la Barca </span> ~</span></p>
</div>
<blockquote><p><span style="font-size: 10pt; color: #0000ff; font-family: Verdana;"><strong>Catatan:</strong></span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; color: #0000ff; font-family: Verdana;">Aku ingat sebuah kisah cinta beberapa hari ini ketika mempersiapkan tulisan untuk <em>Valentine&#8217;s Day</em> di sini. Kisahnya dari sebuah buku milik Papa (<em>yes . . . my Pop is also an avid reader</em>). Tapi sudah bertahun-tahun tidak pernah kulihat di mana buku itu terselip. Jadilah, aku memutuskan tidak jadi menyadur tapi mengarang dari luar kepala (benar-benar dari luar kepala alias <em>nggak</em> ingat rinciannya). Setelah hampir jadi, barulah Michael, adikku, (dengan gembira) memberitahu bahwa dia berhasil menemukan buku itu. Jadilah aku membanding-bandingkan kedua karya dan kemudian memutuskan menyelesaikan karanganku saja. </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; color: #0000ff; font-family: Verdana;"><em>So</em>, kalau bagus, ingatlah tulisan ini diilhami tulisan yang juga bagus; kalau jelek, <em>well </em>. . . timpakan salahnya kepada pengarang <em>amatiran</em> ini. </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; color: #0000ff; font-family: Verdana;"><em>Happy Valentine&#8217;s Day!</em> </span></p></blockquote>
<div>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Mestinya aku berusia sekitar sebelas tahun ketika Paman dan Bibi membawaku berlibur selama sebulan di Paris. Kami tinggal di rumah Madame Dupont, di sebuah rumah tua yang nyaman sedikit di luar Paris.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Setiap hari dengan antusias yang meletup-letup Bibi dan Paman keluar untuk menjelajahi Paris. Tetapi, setelah hari pertama berkeliling dengan mereka, aku tidak tertarik untuk melihat-lihat kota cantik itu lebih jauh. Aku ingin tinggal di rumah, duduk di salah satu sudut ruang makan yang luas dan nyaman atau berkeliaran di seantero rumah yang antik tapi hangat. Aku ingin menyaksikan Madame Dupont yang dengan penuh kegembiraan membenahi rumahnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt">Dia seorang wanita ayu. Malah, menurutku, wanita paling ayu yang pernah kujumpa. Dan dia memiliki senyum yang luar biasa manis. <span id="more-79"></span>Kala dia tersenyum – dan dia sering melontarkan senyum manisnya – seluruh dunia terasa dan menjadi lebih cerah dan ceria bagiku.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Cuma setiap kali dia menatapku, aku selalu tidak berani beradu pandang. Rasanya muka panas sampai ke ujung rambut sehingga aku harus mengalihkan pandangan, menyembunyikan kebingunganku.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Aku tidak mampu menolak ketertarikan yang makin lama makin kuat. Aku yakin <em>banget</em> telah jatuh hati pada wanita ayu itu. Dan aku tahu tak mungkinlah aku menyampaikan perasaan menyenangkan sekaligus menggelisahkan itu kepadanya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Berlama-lama aku berpikir bagaimana mengungkapkan perasaaan aneh itu. Pikiranku terasa tumpul mencari jalan. Semua ide yang awalnya kelihatan baik, selalu kandas ditimpa keraguan dan kebingunganku.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Suatu saat, tanpa sengaja, aku melihat Madame Dupont merapikan rangkaian bunga di ruang keluarga. Dengan terampil tangannya yang lentik menata kuntum-kuntum <em>violet</em> dalam jambangan antik dan kemudian meletakkannya di atas meja. Pemandangan itu akhirnya melahirkan rancangan yang makin kupikirkan makin mantap jadinya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Jadilah hari-hari berikutnya aku berusaha menghemat uang jajan. Ketika jumlahnya sudah cukup terkumpul, di suatu sore, aku pergi membeli kuntum-kuntum <em>violet</em> di <em>florist</em> di dekat rumah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Dengan bunga-bunga itu di tangan aku pergi ke ruang duduk, tempat Madame Dupont duduk merenda hampir tiap sore. Dua kali aku menghampiri pintu ruang itu – dan dua kali juga aku berputar balik arah. Saat kali ketiga, aku kumpulkan seluruh keberanian, mengetuk pintu dan melangkah masuk. Dia segera mengangkat pandangan dari karyanya, dan kemudian, ketika melihat <em>violet-violet</em> di tanganku, seulas senyum merekah di wajahnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Mukaku panas tapi mulutku terkunci rapat, tak bersuara. Aku cuma bisa mengangsurkan bunga-bunga itu ke tangannya. Dia menatap kuntum-kuntum itu dengan takjub dan kemudian berkata, ”Wow . . . betapa cantiknya! Sampaikan terima kasih saya pada pamanmu, ya?”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"> </p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kilauembun.com/2009/02/13/cinta-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>No Smoking, Yes?</title>
		<link>http://kilauembun.com/2009/02/08/no-smoking-yes/</link>
		<comments>http://kilauembun.com/2009/02/08/no-smoking-yes/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 04:41:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ming</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[berhenti merokok]]></category>

		<category><![CDATA[berusaha berhenti merokok]]></category>

		<category><![CDATA[merokok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kilauembun.wordpress.com/?p=476</guid>
		<description><![CDATA[ 

Mereka menakut-nakutiku dengan kanker tenggorok, dan aku terus merokok dan merokok. Andaikan mereka menakut-nakuti dengan kerja keras, mungkin aku akan berhenti. 
~ Mignon McLaughlin ~

Seorang sejawat dari Makassar, ketika bertemu baru-baru ini, mendeklarasikan bahwa dia sudah berhenti merokok. Dia berhenti total. Sudah enam bulan, katanya. Mestinya enam bulan yang menarik, menurutku. Sehingga aku ingin mendengarnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<div style="border-top:blue 2pt solid;border-bottom:blue 1pt solid;padding:1pt 10pt 4pt;">
<p class="MsoNormal" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:medium none;border-bottom:medium none;text-align:center;margin:6pt 0 0;padding:0;" align="center"><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:Verdana;" lang="SV"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:Verdana;">Mereka menakut-nakutiku dengan kanker tenggorok, dan aku terus merokok dan merokok. Andaikan mereka menakut-nakuti dengan kerja keras, mungkin aku akan berhenti</span></strong><strong>.</strong></span><strong> </strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:medium none;border-bottom:medium none;text-align:center;margin:6pt 0 0;padding:0;" align="center"><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;">~ Mignon McLaughlin ~</span></p>
</div>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia; font-size: 12pt">Seorang sejawat dari Makassar, ketika bertemu baru-baru ini, mendeklarasikan bahwa dia sudah berhenti merokok. Dia berhenti total. Sudah enam bulan, katanya. Mestinya enam bulan yang menarik, menurutku. Sehingga aku ingin mendengarnya lebih lanjut berkisah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia; font-size: 12pt">Tiga bulan pertama berhenti adalah bulan-bulan berat, katanya lebih lanjut. Tiga bulan bergulat dengan diri sendiri: selesai makan, ketika <em>dessert</em> asap mestinya menyempurnakan <em>course</em> makan; kala mesti berpikir keras, ketika stimulan nikotin begitu menggoda; kala santai, ketika mestinya sedotan tar menambah sensasi; kala berkumpul dengan sejawat dan sobat, ketika harum asap tembakau dan rempah mestinya menjadi sebuah pembubuh pelengkap suasana. Tiga bulan juga dijalani seperti seorang pecandu <span id="more-78"></span>yang <em>sakauw</em>: lesu, lemas, tidak bergairah, kadang-kadang terimbas ayunan <em>mood</em> yang tidak menentu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family: georgia; font-size: 12pt">Lebih lanjut aku bertanya kenapa dia begitu ‘nekad’ memerangi diri sendiri. Sambil menerawang dia berkisah. Di rumahnya ada semacam kesepakatan tidak tertulis bahwa merokok adalah aktivitas di luar rumah; jadi, kalau mesti merokok dia harus menyingkir dari rumah. </span><span style="font-family:georgia; font-size: 12pt">Dan “menyingkir dari rumah”, belakangan, menjadi ‘gelitik’ yang mengganggu nurani. Dia menghitung ada cukup banyak waktu yang terbuang ketika seharusnya dia bisa berkumpul akrab dengan anak-isteri, berbagi cerita dan berita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:georgia; font-size: 12pt">Aku sendiri, dulu sebagai perokok berat, mengalami ‘gelitik’ mirip seperti itu di awal sembilanpuluhan. </span><span style="font-family:georgia; font-size: 12pt">‘Gelitik’ itu berupa penyadaran bahwa aku telah jadi pecandu (<em>addicted to</em>) rokok. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:georgia; font-size: 12pt">Selama bertahun-tahun, setelah memulai merokok di akhir tujuhpuluhan, aku selalu mampu berkelit dan berujar bahwa “merokok adalah iseng yang dapat kuhentikan setiap saat kala kumau”. Sebagai bukti aku bisa membeberkan bahwa, di saat Puasa Prapaskah (40 hari) dan di saat Puasa Ramadhan (30 hari) aku bisa berhenti total, tidak merokok sebatang pun. (Namun, yang tidak aku beberkan adalah bahwa di tahun-tahun kemudian aku tidak bisa melakukan hal itu seenteng omonganku lagi. Sebuah ‘pembohongan’ yang menyelinap begitu saja).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:georgia; font-size: 12pt">Barulah di suatu malam di awal sembilanpuluhan, aku dihentakkan kesadaran pahit. Aku, lewat tengah malam, menembus tirai gerimis, menempuh lebih dari sekilometer (jalan kaki) hanya karena aku BUTUH rokok. Malam itu, di tengah kuyup tubuh dan baju (begitu ‘butuh’-nya aku akan si rokok sehingga payung atau jas hujan pun tidak terpikirkan </span><span style="font-family:Wingdings;"><span>L</span></span><span style="font-family:georgia; font-size: 12pt"> ) dan di saat menghirup asap pertama rokok itu, aku menyadari sesuatu: TIDAK BENARLAH BAHWA AKU TIDAK KECANDUAN ROKOK. Tindakanku ‘yang luar biasa aneh’ di tengah malam itu didikte oleh oleh kecanduan rokok. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:georgia; font-size: 12pt">Ketika menindaklanjuti gelitik kesadaran itulah makin terasa betapa merokok adalah bagian keseharian yang terlalu melekat. Usaha menghentikan ‘cengkeraman’ rokok adalah deret perjuangan yang panjang: mencoba berhenti bertahap, mencoba berhenti selama jam kerja, mencoba berhenti total sekaligus. Aku melalui pergulatan seperti yang dilalui sejawatku tetapi tidak lulus. Aku gagal total berkali-kali sehingga sempat tidak punya semangat sedikit pun buat meneruskan perjuangan tidak berkemenangan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:georgia; font-size: 12pt">Aku berhenti merokok di bulan September 1992. Secara ajaib, kalau mau dikatakan begitu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:georgia; font-size: 12pt">Pagi itu, aku, menyalahi kebiasaan, tidak berhenti di kios rokok di depan kantor. Ada suara kecil berbisik, “<em>Brenti ngerokok</em> ah“. Tiga batang rokok yang masih tersisa memang kuhisap habis pagi itu. Dan itu adalah tiga batang rokokku yang terakhir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:georgia; font-size: 12pt">Sesudah itu aku memang berhenti merokok. Dengan ringan hati dan hampir tanpa <em>struggle</em>, malah. Aku memang mengalami gejala ’<em>sakauw</em>’ juga: lemas dan lesu. Tapi selebihnya aku <em>oke-oke</em> saja: aku tidak benci asap rokok sekaligus tidak tergoda olehnya sehingga tidak takut berkumpul di antara sejawat yang merokok.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:georgia; font-size: 12pt">Sampai sekarang aku juga tidak tahu persis bagaimana aku BISA berhenti merokok. Tetapi aku yakin, walau tanpa bukti, ada unsur doa dukungan bermain dalam ’fenomena’ ini. Aku percaya, walau tidak ada yang mengakui, ada orang(-orang) yang begitu <em>concern</em> akan kesehatanku sehingga begitu khusuk berdoa agar aku keluar dari ’jalan yang sesat’ itu. Doa itu begitu kuat sehingga akhirnya usahaku jadi begitu ringan seringan mengucapkan, “<em>Brenti ngerokok</em> ah“.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:12pt 0 0;" align="center"><span style="font-family:georgia; font-size: 12pt">____________________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:georgia; font-size: 12pt">Menyelami yang dituturkan sejawatku dan mengalami yang kulalui belasan tahun yang lalu, aku yakin tidak ada aturan atau larangan bahkan undang-undang yang mampu menghentikan kecanduan merokok. Yang mampu cuma hentakan kesadaran bahwa ada yang hilang karena kegiatan itu (misalnya, waktu berkumpul buat sejawatku, atau keter-dikte-an oleh kecanduan buatku) dan dukungan penuh (perhatian, <em>concern</em> bahkan doa) dari orang-orang terdekat dan tercinta. Paling sedikit itulah yang aku (dan sejawatku) tahu . . . .</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kilauembun.com/2009/02/08/no-smoking-yes/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pernikahan: Lima Belas Tahun Ini . . .</title>
		<link>http://kilauembun.com/2009/02/01/pernikahan-lima-belas-tahun-ini/</link>
		<comments>http://kilauembun.com/2009/02/01/pernikahan-lima-belas-tahun-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2009 14:24:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ming</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<category><![CDATA[anniversary pernikahan]]></category>

		<category><![CDATA[perkawinan]]></category>

		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kilauembun.wordpress.com/?p=465</guid>
		<description><![CDATA[ 

Cinta pada pandangan pertama mudah dipahami; adalah ketika dua manusia sudah saling ’memandang’ seumur hidup barulah hal itu menjadi sebuah mukjizat. 
~ Amy Bloom ~


“Dewa Wisnu sudah bosan mendengarkan permohonan salah seorang penyembahnya, hingga suatu ketika ia menampakkan diri di hadapannya dan berkata, ‘Sudah kuputuskan: aku akan memberimu tiga hal, apa pun yang kau minta. Sesudah itu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<div style="border-top:blue 2pt solid;border-bottom:blue 1pt solid;padding:1pt 10pt 4pt;">
<p class="MsoNormal" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:medium none;border-bottom:medium none;text-align:center;margin:6pt 0 0;padding:0;" align="center"><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:Verdana;" lang="SV">Cinta pada pandangan pertama mudah dipahami; adalah ketika dua manusia sudah saling ’memandang’ seumur hidup barulah hal itu menjadi sebuah mukjizat.</span></strong><strong> </strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:medium none;border-bottom:medium none;text-align:center;margin:6pt 0 0;padding:0;" align="center"><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;">~ Amy Bloom ~</span></p>
</div>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">“Dewa Wisnu sudah bosan mendengarkan permohonan salah seorang penyembahnya, hingga suatu ketika ia menampakkan diri di hadapannya dan berkata, ‘Sudah kuputuskan: aku akan memberimu tiga hal, apa pun yang kau minta. Sesudah itu, tidak ada sesuatu pun yang akan kuberikan kepadamu lagi.’</span></span></p>
</blockquote>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">“Penyembah itu dengan gembira langsung mengajukan permohonan yang pertama. Ia meminta agar isterinya mati sehingga ia dapat menikah lagi dengan wanita lain yang lebih baik. Permohonannya dikabulkan dengan segera.</span></span></p>
</blockquote>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">“Tetapi ketika teman-teman dan sanak saudaranya berkumpul menghadiri pemakaman isterinya dan mulai mengenangkan kembali semua sifat baiknya, penyembah ini sadar bahwa ia telah bertindak terlampau gegabah. Saat itu ia menyadari bahwa ia dulu buta terhadap segala kebaikan isterinya. Apakah ia masih bisa menemukan wanita lain yang sebaik dia?</span></span></p>
</blockquote>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">“Maka ia memohon kepada dewa agar menghidupkan isterinya kembali. . . .” *</span></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Kisah itu sempat melintas di benak ketika malam itu, sendirian, aku merenungi pernikahan yang sudah berusia lima belas tahun.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Malam sudah agak larut. <span id="more-77"></span>Candra bersama Ena dan Peter serta Mama, yang tengah <em>nginap</em> di Cibubur, telah berangkat tidur sejak tadi, mengarungi alam mimpi indah,<span>  </span>mungkin. Makan malam bersama merayakan <em>anniversary</em> pernikahan kami, selain meninggalkan kesan manis, membawa kelelahannya sendiri. Apalagi untuk Candra yang baru turun dari rapat tahunan di Bandung tadi siang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Aku yang sendirian di malam yang agak larut memang sebuah ‘tradisi’ keluarga kami lima belas tahun ini. Hampir tidak pernah Candra menemaniku di saat-saat begini. Renungan yang lahir, pemikiran yang terbentuk atau tontonan layar kaca yang ternikmati di saat seperti itu adalah kenikmatan yang kuhayati sendirian, tidak terbagi karena memang ‘tidak ada yang berbagi’. Sebuah ‘cacat’ dari pernikahan kami? Mungkin juga.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Namun bila hal itu adalah ‘cacat’ pernikahan kami, aku tidak pernah menyesali atau ingin menukarnya dengan apa pun. Karena ada lebih banyak ‘kesempurnaan’ dalam hidupku lima belas tahun menjalani pernikahan itu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Aku selalu memiliki senyum lebar khas Candra yang selalu meringankan hati dan menyemangati, tak peduli seberapa berat jalan yang harus kami tempuh bersama. Aku selalu bisa menatap lekat sinar matanya yang memancarkan kearifan menyadari dan memaafkan kemalasan, kehati-hatian yang berlebih dan <em>mood swing</em>-ku yang, mestinya, tidak <em>nalar</em>. Aku tidak ingin membuang kenyamanan yang diciptakannya ketika aku, bahkan, tidak nyaman dengan diriku sendiri. Aku tidak ingin terlewati kecerewetannya tentang kesehatanku ketika, sadar atau tidak sadar, aku bersikap <em>fatalist</em>. Ada saja pernik cinta kasih yang baru ku-‘pelajari’ darinya, tak peduli sudah seberapa fasih aku mampu ‘menceramahkan’ teori, dalil atau postulat hal itu. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Belasan tahun yang lalu, ketika meminta beliau melamar Candra untukku, Papa pernah ‘menguji’-ku dengan mengingatkan perbedaan latar belakang keluarga kami dan perbedaan kepercayaan kami. Dan aku dengan tegas mengatakan bahwa aku menikah karena butuh isteri yang baik bukan karena butuh wanita yang se-<em>level</em> atau se-keyakinan. Dan lima belas tahun terakhir adalah bukti yang nyata tentang keyakinanku itu. Dia benar-benar isteri yang luar biasa, bahkan jauh melampaui ‘kualitas’-ku sebagai suami dalam rumah tangga. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;"><span style="font-size:12pt;">Ah . . . andaikan Dewa Wisnu bertandang dan bertanya apa yang akan kuinginkan untuk terwujud segera saat ini, tanpa ragu aku akan memohonkan dua permintaan. Permintaan pertama: Ming yang lama ‘dimatikan’. Permintaan kedua: Diciptakan Ming yang lebih baik untuk isteriku tercinta; Ming yang lebih mampu mengimbangi kebaikan dan kesempurnaan Candra mengisi hidupku lima belas tahun terakhir. . . . </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:6pt 0 0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;"> * dikutip dari buku <em>Burung Berkicau</em> karya Anthony de Mello SJ</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kilauembun.com/2009/02/01/pernikahan-lima-belas-tahun-ini/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Renungan Winter</title>
		<link>http://kilauembun.com/2009/01/10/renungan-winter/</link>
		<comments>http://kilauembun.com/2009/01/10/renungan-winter/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 16:45:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ming</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<category><![CDATA[arti bekerja]]></category>

		<category><![CDATA[human]]></category>

		<category><![CDATA[manusiawi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kilauembun.wordpress.com/?p=450</guid>
		<description><![CDATA[ 

Tanamlah sepucuk pohon hijau di hatimu dan, mungkin, seekor burung penyanyi akan datang ke situ.
~ Kata mutiara Cina ~

Catatan:
Aku pernah sempat terpikir, betapa menyenangkan mendapat kesempatan bekerja di mancanegara. Tapi baru-baru ini seorang sobat memberikan tulisan terlampir. Sebuah tulisan yang mengoreksi opiniku. 
Tetapi lebih jauh tulisan itu memperlihatkan sisi lain menjalani kerja. Menjalani kerja yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<div style="border-top:blue 2pt solid;border-bottom:blue 1pt solid;padding:1pt 10pt 4pt;">
<p class="MsoNormal" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:medium none;border-bottom:medium none;text-align:center;margin:6pt 0 0;padding:0;" align="center"><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;"><strong>Tanamlah sepucuk pohon hijau di hatimu dan, mungkin, seekor burung penyanyi akan datang ke situ.</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:medium none;border-bottom:medium none;text-align:center;margin:6pt 0 0;padding:0;" align="center"><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;">~ Kata mutiara Cina ~</span></p>
</div>
<blockquote><p><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;"><strong>Catatan:</strong></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;">Aku pernah sempat terpikir, betapa menyenangkan mendapat kesempatan bekerja di mancanegara. Tapi baru-baru ini seorang sobat memberikan tulisan terlampir. Sebuah tulisan yang mengoreksi opiniku. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;">Tetapi lebih jauh tulisan itu memperlihatkan sisi lain menjalani kerja. Menjalani kerja yang lebih dari sekedar mencari &#8217;sesuap nasi&#8217; (atau &#8217;segenggam intan&#8217; <img src='http://kilauembun.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ). Di mana pun, kapan pun.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;"><em>Vielen dank,</em> Chan!<em> </em></span></p></blockquote>
<div><span style="font-size:12pt;"></span></div>
<p><span style="font-size:12pt;"></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><em>Winter</em> keempat di Jenewa . . . .</p>
<p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:12pt;">Melihat hamparan salju di luar, kadang aku masih suka terpikir, “Lho, sampai sekarang masih di sini <em>to</em>?<span>  </span><em>Kok</em> bisa ya….” </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:12pt;">Menengok ke belakang, terutama saat-saat jadi <em>fresh newcomer</em>, tidak terpikir aku akan tinggal selama bertahun-tahun di sini. Yang mengantarku ke sini . . . ya pekerjaan; Yang membuatku bertahan . . . ya juga pekerjaan; dan tentu saja imbalan serta kesempatan untuk menambah pengalaman di ajang internasional.<span id="more-76"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:12pt;">Lalu, selain materi, apa saja yang sudah kudapat selama ini ? Rasanya cukup banyak; terutama di segi kemanusiaan: <em>maturing in profession</em> dalam situasi kultural yang sangat berbeda dengan di tanah air. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:12pt;">Aku berharap hal itu membuatku menjadi Chandra dengan versi yang lebih baik. Perbaikan tentu saja masih harus terus-menerus dilakukan, terutama di segi komunikasi. Sesudah sepanjang hari melayani bertumpuk-tumpuk <em>e-mail</em>, aku <em>kedodoran</em> di komunikasi sosial. Tiba di rumah (<em>eh</em> . . . apartemen) aku sudah capek atau terlalu malas untuk ber-<em>sms</em> ria, atau <em>nulis</em> ini itu ke teman dan sahabat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:12pt;">Di pekerjaan, karena tetap berkutat di bidang SDM (= <em>Human Resource</em>), aku mendapati bahwa di mana-mana masalah kemanusiaan itu sama, hanya setting-nya saja yang beda. Istilahnya, <em>basic human needs</em> itu universal: setiap orang butuh dihargai, butuh diperhatikan, didengarkan, dipedulikan, dan seterusnya. Tidak peduli warna kulit apa, dari ras mana, tingkat hidup bagaimana, kebutuhan ini sama. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:12pt;">Awalnya agak bingung, mencoba mengerti “orang ini maunya apa sih?”, sampai aku tiba di kesadaran berikut: Coba copot atribut-atribut itu dan lihat apa yang ada di situ? Manusia. Dan aku pakai resep andalanku lagi, “<em>stop seeing them as just resource, see them as human</em>”. <em>That’s what human resource is all about</em>. Kadang kita terlalu fokus ke <em>resource-</em>nya dan lupa pada <em>human</em>-nya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:12pt;">Dari situ semuanya mulai bergulir lancar lagi.<span>  </span>Aku terjemahkan resep itu ke praktek nyata yang lebih <em>service-oriented</em> dan mau melayani dengan lebih tulus. Setiap pagi sebelum berangkat kerja aku ucapkan doa yang sama pada Tuhan, minta kehadiran Tuhan dalam tindakan, ucapan dan fikiranku, minta keberanian untuk menyuarakan kebenaran, minta agar aku bisa bersikap adil kepada siapa pun dan di mana pun aku berada pada hari ini. Kedengarannya ideal <em>banget</em> ya . . . tapi ya lumayan ampuh <em>tuh</em>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:12pt;">Aku <em>nggak</em> bisa bilang semuanya itu gampang. Sebaliknya, kadang sulit sekali untuk konsekwen, untuk tetap melihat “manusia” di balik sosok <em>sangar</em>, ketus, politis dan banyak topeng lainnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:12pt;">Di hari-hari berat, aku gunakan <em>weekend</em> untuk istirahat total, <em>purging</em> – membersihkan hati dan otak dari keruwetan masalah orang lain. Bila cuaca bagus, aku nikmati apa yang disediakan alam. Dari jendela kantor saja sudah kelihatan gunung dan bukit; dan di bawahnya ladang gandum dan anggur.<span>  </span>Di <em>winter time</em> ini, aku tidak bosan-bosan melihat salju turun seperti kapas melayang-layang dan semua jadi hamparan putih di luar sana . . . . Semua bagus. Semua indah. Dan Tuhan yang Maha Kuasa masih memelihara aku.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:12pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="IN"><span style="font-size:12pt;">Selamat Natal untuk semua. Semoga kelahiran Kristus membawa kelahiran kita kembali jadi manusia yang <em>human</em> dan <em>humane</em> . . . .</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kilauembun.com/2009/01/10/renungan-winter/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sapa Natal buat Para Sobat</title>
		<link>http://kilauembun.com/2008/12/31/sapa-natal-buat-para-sobat/</link>
		<comments>http://kilauembun.com/2008/12/31/sapa-natal-buat-para-sobat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Dec 2008 17:44:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ming</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Salam Sapa]]></category>

		<category><![CDATA[Selamat Natal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kilauembun.wordpress.com/?p=437</guid>
		<description><![CDATA[

Ke-offline-anku tidak bisa kuhindari. Berbagai cara dan pengalaman kutempuh: warnet yang susah kutemukan dalam cuti kali ini; warnet yang lelet; komputer teman yang tembok keamanannya begitu ketat sehingga nggak bisa masuk ke wordpress; dan komputerku yang ’bersin-bersin’ nggak jelas juntrungan-nya. 
Akhirnya, barulah di tengah malam (atau di pagi buta) ini, aku berhasil menyelinap masuk sejenak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="SV"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="SV"><span style="font-size:12pt;">Ke-<em>offline</em>-anku tidak bisa kuhindari. Berbagai cara dan pengalaman kutempuh: warnet yang susah kutemukan dalam cuti kali ini; warnet yang<em> lelet</em>; komputer teman yang tembok keamanannya begitu ketat sehingga <em>nggak</em> bisa masuk ke <em>wordpress</em>; dan komputerku yang ’bersin-bersin’ <em>nggak</em> jelas <em>juntrungan</em>-nya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="SV"><span style="font-size:12pt;">Akhirnya, barulah di tengah malam (atau di pagi buta) ini, aku berhasil menyelinap masuk sejenak ke <em>wordpress</em>. Sebuah tulisan sempat ku-<em>posting</em>. Sekarang aku tengah menulis sapa kecil ini; semoga bisa selesai sebelum koneksi terputus atau ada gangguan lain.<span id="more-75"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="SV"><span style="font-size:12pt;">Sapa kecil kali ini benar-benar kecil: karena singkat tulisannya (kecil bentuk), karena telat terucap (kecil dampak). <em>Anyway, here I go</em>!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="SV"><span style="font-size:12pt;">”Selamat Natal! </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="SV"><span style="font-size:12pt;">”Semoga keheningan dan kebeningan Natal kali ini tidak tertumpang tindih hingar bingar perayaan, tidak tersisih kesibukan tanpa ujung, dan tidak terhapus noda-noda kemanusiaan kita.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="SV"><span style="font-size:12pt;">”Kiranya kebeningan dan keheningan kembali melingkupi sanubari kita sehingga damai benar-benar lahir dan tumbuh hari-hari ini dan hari-hari mendatang. <em>God bless</em>!”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="SV"><span style="font-size:12pt;">He he . . . berhasil juga sapa ini kutuntaskan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:26.95pt;margin:6pt 0 0;"><span style="font-family:Georgia;" lang="SV"><span style="font-size:12pt;">Ah . . . coba kulanjutkan sedikit dengan sebuah hadiah untuk Sobat semua. Hadiah itu ada di kamar berikut: <a title="Hadiah Desember 2008" href="http://kilauembun.wordpress.com/hadiah-desember-2008/" target="_blank">Hadiah Desember 2008</a></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kilauembun.com/2008/12/31/sapa-natal-buat-para-sobat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
